Saturday, May 16, 2015

Pekalongan, Loji, dan Nelayan (Part 2)



Pelabuhan Ikan Pekalongan, adalah tempat terakhir yang aku kunjungi, konon ini adalah pelabuhan ikan terbesar di Jawa, disini juga ada TPI, Tempat Pelelangan Ikan. Terletak di pantai Slamaran. Lelang ikan berlangsung terbuka, dan tertib. Pelabuhan dan TPI Pekalongan ini sangat bersih dan rapi, jika dibanding dengan kebanyakan pelabuhan ikan yang terkesan kotor, kumuh, dan bau.

Pagi, di pantai Slamaran, Pekalongan
Terdapat satu gedung tua berarsitektur belanda yang masih terawat rapih dan bersih, serta masih digunakan untuk kantor. Sangat klasik dan indah.

Pelabuhan Ikan Pekalongan yg bersih
Menyaksikan sendiri proses sejak ikan diturunkan dari kapal yang baru bersandar, kemudian dibawa kedalam TPI untuk siap dilelang, ditata sedemikian rupa sehingga tersusun rapi per jenis ikan dan ukuran, dimana masing masing sudah dimasukkan kedalam kantong plastic, sehingga ikan tetap bersih dan hygien. Adalah suatu pengalaman tersendiri, sungguh luar biasa. Konon pelabuhan disini memang memiliki reputasi mentereng. Adalah pelabuhan ikan terbesar sekaligus terbersih di Jawa.

Kapal Nelayan, bersandar di Pelabuhan Ikan Pekalongan
Bertolak belakang dengan reputasi tersebut, para nelayan yang sempet aku temui, bercerita bahwa kondisi dunia perikanan Indonesia sesungguhnya memprihatinkan. Setidaknya apa yang mereka saksikan dan  alami cukup menjadi gambaran untuk mewakili kondisi yang utuh. Aku mendengarkan, sesekali menanggapi dan berkomentar serta berusaha menghibur agar mereka tetap sabar.

Dituturkan, dulu tahun 90-an rata-rata 500 sampai 700 kapal yang bersandar untuk bongkar muat, kini hanya tinggal antara 150 sampai 200 kapal saja. Dulu lelang berlangsung dari pagi buta sampai sore hari, kini rata rata dimulai jam setengah delapan, belum tengah hari sudah habis terjual.

Tanpa ditanya apa sebabnya, mereka dengan lancar menjelaskan penyebabnya. Ini bukan karena daya beli masyarakat menurun. Tapi karena fishing groundnya sudah habis. Apa itu fishing ground Pak ?, tanyaku. Ya lokasi penangkapan ikan, ada 2 tempat yang umum didatangi oleh nelayan Pekalongan, juga nelayan daerah lain, yaitu Masalembo, dan Natuna. Kenapa bisa habis ? karena over fishing, tambahnya. Segitu banyakkah kapal kapal kita sampai ikannya habis di tangkap ?, tidak…

Kapal asing justru yang banyak, kalau malam, dilokasi penangkapan suasananya kayak pasar malam, kerlap kerlip lampu kapal dimana-mana, kebanyakan mereka illegal, curi ikan di Indonesia, untuk amannya mereka ganti bendera merah putih ditengah laut. Mereka pakai jaring pukat, sehingga ikan ikan kecil pun ikut tertangkap, dan terumbu karang rusak karenanya. Sehingga ya bisa dibayangkan, lama-lama ikannya habis. Karena yang kecil gak sempet tumbuh jadi besar  untuk suatu hari nanti ditangkap.  Ditambah lagi tempet berkembang biaknya, yaitu terumbu karangnya juga rusak.

Sementara kami yang asli nelayan local dilarang pakai jaring pukat.

Apakah tidak dilaporkan kondisi ini Pak, tanyaku.
Sudah Mas, jawabnya
Terus gimana hasilnya ?
Ya, begitulah…. 

Jawaban penuh makna. Aku tidak melanjutkan Tanya jawab ini. aku coba menghibur dan memberi harapan. Bukankah mentri Susi sekarang ini serius sekali melawan illegal fishing, banyak kapal ditenggelamkan, seperti yang kita lihat di TV ?. ya… betul, semoga itu bukan pencritaan, sahutnya. Kenapa begitu Pak ? tanyaku spontan. Masak sebulan Cuma satu yang ditenggelamkan ?, di laut sono ratusan Pak yang nyolong….

Sabar Pak… pelan-pelan, setidaknya sudah dimulai oleh Mentri Susi, semoga kesananya akan semakin banyak lagi kapal-kapal asing yang mencuri ikan di laut kita, ditangkapi oleh Angkatan Laut kita, dan langsung ditenggelamkan, supaya ada efek jera. Ikan kita melimpah dan habitatnya tidak rusak. Nelayan kita kembali melaut dan mendapat hasil yang melimpah. Tempat pelelangan ikan disini kembali ramai dari subuh sampai maghrib.

Aamiin… 

Gedung bekas peninggalan Belanda yang masih terawat
Muara Sungai Slamaran, pintu masuk menuju Pelabuhan Ikan Pekalongan

No comments:

Post a Comment