Showing posts with label Baduy. Show all posts
Showing posts with label Baduy. Show all posts

Monday, April 6, 2015

Wonderful Baduy (Part 4)



Memenuhi Janji, Kembali ke Baduy
September 8, 2013



bagian 2
Aku juga menemukan sebuah bangunan lumbung yang berubah fungsi. Umumnya lumbung digunakan untuk menyimpan hasil bumi, untuk keperluan jangka panjang. Lumbung yang ini mungkin sudah rusak, lalu dindingnya dilepas, dan digunakan untuk menyimpan kayu bakar.

Lumbung, berubah fungsi utk menyimpan kayu bakar, Baduy Luar

Dikesempatan lain, aku melihat sebuah lereng yang nyaris gundul, sehingga terlihat sebuah pondok kecil sendirian berada di tengah-tengahnya, dikemiringan sekitar 45 derajad. Sepintas kita melihatnya membahayakan. Tetapi sudah beratus tahun masyarakat Baduy berpengalaman mengelola hutan mereka, secara alamiah, tanpa sentuhan teknologi, tanpa polusi bahan kimia, untuk alam yang murni. Ladang ini mau diremajakan. Beberapa bulan kedepan, jika kita mengunjungi tempat ini lagi, mungkin pondok kecil ini tidak terlihat lagi, tertutup oleh rimbunnya pohon.

Lereng bekas pohon sengon, Baduy Luar

Pada kesempatan lain lagi, aku juga melihat deretan kayu dengan lubang berderet diatasnya, diletakkan berdiri menyandar ke teras rumah. Tadinya aku pikir ini alat permainan congklak, permainan tradisional seperti halnya di jawa. Tapi rupanya berbeda, ketika aku memotretnya, Kang Herman menjelaskan bahwa itu adalah alat untuk mencetak gula merah. Oh aku paham, pantas ada satu ruas bambu yang dilubangi diujung-ujungnya dan diikatkan tali di keduanya. Mungkin bambu ini digunakan untuk mengambil aren sebagai bahan baku gula merah.


Alat cetak gula aren, Baduy Luar

Kami tiba di jembatan bambu kedua, dibatas Dusun Cipaler. Diseberang sana adalah wilayah Baduy Dalam. Kami harus mematikan camera, lalu menyimpannya. Begitu juga semua peralatan komunikasi. Ketentuan ini harus dijalankan, bukan semata-mata demi menghormati adat setempat, tapi ini bagian dari commitment setiap orang yang memasuki wilayah Badui Dalam. Peringatan itu sudah terpampang di pintu masuk kawasan Baduy, di Ciboleger. Jadi, ini sudah menyangkut integritas seseorang. ini tentang kepatuhan akan aturan yang ada, kalo bukan kita yang menegakkannya, lalu siapa lagi ? Kemurnian alam Baduy dan Masyarakatnya sudah terjaga ratusan tahun, karena integritas pribadi-pribadi yang terinteraksi dengannya, baik masyarakat Baduy sendiri, maupun masyarakat diluar Baduy…

Sekali lagi kami melintasi sungai yang indah. Airnya dangkal dan mengalir beriak, dinaungi pohon-pohon yang teduh, adem. Suasana saat itu begitu damai, tenang, setenang wajah-wajah Baduy yang jujur. Kedamaian yang mempesona, yang bisa kita nikmati dan rasakan hanya beberapa jam saja dari Jakarta yang hingar bingar, riuh dengan berita tentang korupsi, kekerasan dan aneka kenistaan lainnya. Maka nikmat apa lagi yang mesti kita dustakan ?
Alam Baduy

Jembatan Bambu, Baduy Luar

Tak terasa, kami telah tiba di Cibeo. Hari masih terang, kami bersantai dulu, istirahat duduk-duduk diteras rumah Kang Herman. Rumah ini sepi karena Bu Herman masih di ladang dan belum kembali. Aku segera menuju ke sungai untuk membersihkan diri, mumpung masih sepi, sekaligus ambil wudhu untuk persiapan sholat maghrib dan isya nanti.

Kang Herman sibuk membersihkan rumah. Menyiapkan segala sesuatu, termasuk tungku untuk memasak. Tak lupa air putih yang segar… air Cibeo yang murni. Kami meneguknya dari gelas yang terbuat dari bambu, ini menjadi semacam ritual bagi kami. Malam itu kami berbincang panjang lebar tentang kehidupan, juga tentang Baduy, ditemani Bu Herman, Naldi dan Abah yang bergabung. Abah dengan sabar menceritakan apa-apa yang kami tanyakan, termasuk tentang rumah Baduy yang dibuat tanpa memangkas tanah, tanpa menggunakan sebatang paku pun. Ada satu lagi yang aku baru tahu, bahwa tiap rumah Baduy dalam, memiliki satu buah kayu panjang tanpa sambungan, sebagai “belandar” (istilah jawa) atau penopang utama dari atap rumah. Terletak diatas atau “wuwungan” (istilah jawa) dipasang sejajar lantai dari batas paling belakang sampai batas depan, kira kira diatas pintu rumah. Kayu ini ditebang sendiri, dan dibentuk hanya dengan menggunakan kampak, tanpa alat gergaji atau sejenisnya. Ini harus, ini aturan adat.

Kami semua menikmati makan malam secara bersama-sama, masakan Bu Herman. Nasi putih hasil tanaman Baduy, ditambah sayur dan ikan asin, nikmat sekali, sambil kami terus melanjutkan berdiskusi, dan bertukar pikiran. Selesai makan, kopi Baduy dihidangkan didalam gelas bambu, ditemani singkong yang tadi siang Kang herman ambil dari ladang, manis, empuk dan lembut, menandakan tanah Baduy yang subur meski tanpa pupuk sintetis.

Malam itu kami tak bisa menikmati indahnya langit dan gemerlapnya bintang seperti dahulu, karena malam ini langit diliputi awan mendung. Sayang sekali, padahal aku telah mempromosikan spektakulernya langit Baduy ini kepada teman-teman sejak hari sebelumnya. Kami gunakan waktu malam ini untuk berbincang di dalam rumah, karena diluar sedang gerimis. Aku terbangun pagi itu, aku sungguh tak ingat jam berapa tertidur ?, usai sholat subuh, tanpa mandi karena dingin, kami awali ritual pagi ini dengan segelas kopi Baduy dan sarapan nasi Baduy yang lezat. Lalu kami segera bersiap melanjutkan perjalanan meninggalkan Dusun Cibeo melintasi bukit Cimangseri menuju jembatan akar.

Kami berpamitan ke Bu Herman dan Abah, berterimakasih dan berjanji akan kembali lagi suatu hari nanti. Kami berjalan dengan formasi yang sama seperti kemarin, bertujuh. Meninggalkan pemukiman Baduy Dalam yang damai, menyusuri jalan-jalan batu diantara rumah-rumah Baduy, menyeberangi sungai kecil, dan tak ada lagi rumah, hanya hutan dan ladang yang kami lintasi. Kami menyeberangi sebuah sungai kecil dibalik bukit Cimangseri, artinya kami telah meninggalkan wilayah adat Badui Dalam, dan kami bisa menggunakan camera lagi. Kami tiba di sebuah pondok di ladang, setelah menempuh hampir 1 jam perjalanan. Istirahat sejenak sambil jeprat jepret apa saja yang menarik utk diabadikan, termasuk wajah Asda yang pendiam.

Asda, Baduy Dalam

Batas Baduy Dalam

Ahirnya kami tiba di jembatan akar, dibawahnya air cukup deras, mungkin karena banjir. Aku melihat beberapa batang pohon mengapung diatas sungai, ada yang ditunggangi oleh anak-anak Baduy. Didepan sana ada jeram, meskipun tidak terlalu besar, tetap saja membuat aku khawatir. Anak-anak ini luar biasa, mereka bisa melewati jeram dengan mulus, sayang sekali tidak sempat mengabadikannya.

Jembatan Akar

Kami biarkan Puji dan Aan berlama-lama menikmati jembatan akar ini, bagi mereka ini mungkin fenomenal, sama seperti perasaanku ketika pertama kali melihat jembatan ini. Jalinan akar-akar pohon yang masih hidup dirangkai dengan akar-akar pohon yang berada diseberang sungai. Hingga saling mengait dan menyatu, menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan ke dua sisi sungai. Aku bertanya kepada Naldi, kapan jembatan ini dibuat ?. Naldi menjawab “saya juga pernah bertanya kepada kakek saya, dia juga gak tahu”. Berarti jembatan ini dibuat mungkin sudah lama sekali.

Kesaksian Naldi membuktikan betapa panjang sejarah Baduy dengan kehidupannya yang bersahaja, mengelola alam yang murni, asli, tanpa polusi. Kami melanjutkan perjalanan menuju dusun Gerendeng, untuk selanjutnya meninggalkan kawasan Baduy menuju Jakarta. Tempat kami tinggal dan mencari nafkah, tempat keriuhan segala macam jenis manusia dengan segala kepentingannya, dari yang jujur sampai yang serakah, miskin dan kaya. Tempat segala macam limbah dan polusi berada, segala macam produk buatan manusia yang berakhir di tempat sampah. Tempat mengalirnya sungai-sungai yang hitam dan bau, tak seperti sungai Baduy yang murni. Sekali lagi aku berjanji akan mengunjungi Baduy lagi, untuk belajar lagi….

Lanjut ke Wonderful Baduy (Part 4)
Cerita ini juga dimuat di http://www.khatulistiwa.info/2013/09/kembali-ke-baduy.html

Wonderful Baduy (Part 3)


Memenuhi Janji, Kembali ke Baduy
September 8, 2013


bagian 1
Sekali lagi aku mengunjungi Baduy Dalam, seperti janjiku dulu ketika pertama kali mengunjunginya. Masih sangat banyak hal yang ingin aku pelajari dari kemurnian alamnya, wisdom masyarakatnya, serta hal hal yang mengitarinya. Mengunjungi Desa Kanekes tempat dimana masyarakat Baduy tinggal adalah hal yang sangat menakjubkan. Semakin lama kita berinteraksi dengan masyarakat Baduy, semakin banyak hal-hal yang ingin aku ketahui. Bagiku ini seperti magnit yang menarik-narik pikiranku untuk terus memikirkannya.

Alam Baduy
Perjalananku kali ini mengambil rute yang sama persis ketika aku mengunjunginya dulu. Turun dari kereta di stasiun Rangkas, langsung dilanjut dengan menggunakan angkutan umum menuju Ciboleger. Dan disana teman Baduy ku “Herman” sudah menunggu untuk menemani kami menelusuri perkampungan Baduy dan hutan-hutannya hingga sampai di Cibeo. Tempat dimana Herman dan seluruh anggota masyarakat Baduy Dalam tinggal. Kami hanya berempat, bersama Puji, April dan Aan. Kami menyempatkan makan siang dulu dan sholat di Ciboleger.
Papan larangan yg harus ditaati, di gerbang Baduy Luar

Sebelum memasuki kawasan hutan Baduy, kami menyempatkan membaca papan pengumuman atau peringatan tentang ketentuan adat yang berisi larangan bagi siapapun yang memasuki kawasan ini. Yang menarik adalah yang terpampang itu hanyalah sebagian kecil dari begitu banyak larangan sebagai bagian dari adat masyarakat Baduy. Aan dan Puji harus membacanya karena mereka baru pertama kali datang kesini. Lalu kami berempat melanjutkan perjalanan, ditemani herman dan anaknya “Asda” yang masih kecil, serta satu teman Baduy lagi yaitu Naldi. Bertujuh kami mulai berjalan kaki memasuki kawasan masyarakat Baduy. Seperti biasa ketiga rekan Baduy ku berjalan dengan pakaian mereka yang khas serta tanpa alas kaki. Itu sudah menjadi bagian dari adat mereka yang teguh dipegang dan dilaksanakan dengan ringan hati.
Suasana jalan, dilingkungan Baduy Luar

Kami memasuki dusun Balimbing dengan nafas sudah mulai memburu dan keringat mengucur. Terus berjalan, dalam diam. Hembusan nafas tersengal dan sepatu beradu dengan tanah, itulah suara yang kami hasilkan. Aan dan Puji bertanya, akan ada berapa dusun lagi kita lewati ?. Kang Herman menjelaskan, masih ada 4 dusun lagi di depan yang terpisah oleh hutan dan kita akan naik turun melewati gunung atau bukit serta ladang atau hutan yang sepi. Kita juga akan menyeberangi beberapa sungai sedang dan kecil. Dusun-dusun yang akan kita lalui yaitu dusun Merengo, Gajeboh, Cicakal, lalu Cipaler. Setelah ini baru akan memasuki dusun Cibeo, tujuan akhir kami. Mereka diam, lalu duduk di teras salah satu rumah Baduy, mengeluarkan botol air minum dan meneguknya. Kami istirahat, dan aku sempatkan memotret fondasi atua tepatnya kaki rumah Baduy. Aku perhatikan bagaimana konstruksinya, bahannya, dan betapa sederhana rumah ini dibuat. Kaki-kaki rumah yang terbuat dari kayu hanya diletakkan begitu saja diatas tanah yang dilandasi oleh batu kali, sekedar agar rata dan membatasinya dengan tanah, agar terhindar dari rayap. Tanpa harus menggali dan tanpa menggunakan semen.

Fondasi rumah panggung, Baduy Luar

Fondasi Lumbung, Baduy Luar

Saluran air dari Bambu, Baduy Luar

Kami melanjutkan perjalanan melewati jalan-jalan didusun, diantara rumah-rumah Baduy. Jalan ini adalah tanah yang diratakan dan dilapisi batu kali dalam ukuran yang cukup dan disusun dengan rapi, sehingga nyaman dilewatinya. Ada hal yang menarik, ada bambu yang sangat panjang melintangi jalan. Aku lihat air mengalir didalamnya, persis yang melintang diatas jalan bambunya masih bulat hanya ada beberapa lubang berbentuk  persegi dibagian atasnya. Sementara yang tidak melintang, bambu itu dibelah jadi dua. Entah dari mana asal air ini, yang jelas dialirkan untuk keperluan penduduk dusun Balimbing.

Selang beberapa lama, kami kaget ketika melihat sungai yang dibendung utk mencegat potongan-potongan kayu dalam ukuran sedang. Spotan teman-teman berkomentar wah ada pembalakan. Herman segera menjelaskan, itu adalah kayu sengon dari ladang-ladang masyarakat Baduy luar, yang dijual oleh pemiliknya untuk keperluan industry pengolahan kayu. Jadi ini bukan pembalakan, akupun percaya, karena pasti penebangan pohon ini melewati perijinan yang tidak gampang, apalagi jika dikaitkan dengan ketentuan adat yang ketat. Jika hal ini tidak memenuhi ketentuan adat, tentu tidak akan terjadi pertunjukan terbuka ini. Pohon-pohon sengon ini mungkin sudah waktunya dipanen, untuk diganti dengan bibit-bibit yang baru, untuk dipanen beberapa tahun ke depan, begitu seterusnya. Barangkali ini memang mata pencaharian masyarakat Baduy luar. Kayu sengon ini ditebang dari ladang-ladang yang posisinya di hulu sungai, lalu di gelindingkan ke sungai dan dibiarkan terbawa arus hingga tiba disini.
Panen kayu sengon, dialirkan lewat sungai

Hasil panen kayu sengon, Baduy Luar

Panen kayu sengon, Baduy Luar
Perjalanan berlanjut, kami terhantar tiba di jembatan bambu pertama, nanti ada jembatan bambu lagi setelah dusun Cipaler. Bambu adalah komponen penting bagi masyarakat Baduy. Sebagian besar keperluan rumah dan perabotan terbuat dari bambu. Lantai rumah, dinding rumah, alat untuk mengambil air, gelas, dll. semua terbuat dari bambu.
Jembatan Bambu, Gazebo

Bambu Petung, Baduy Luar

Aku tersenyum melihat Puji berjalan bergandengan akrab dengan si kecil, Asda. Seperti kakak adik, entah mereka bicara apa, sebab yang aku tahu Asda hanya bisa bicara bahasa Sunda. Kami terus melangkah menikmati indahnya alam Baduy. Menyebrangi sungai, melintasi jalan setapak diantara semak dan pohon-pohon, menanjak, lalu turun, dijalanan tanah maupun batu, keluar masuk perkampungan Baduy. menyenangkan dan menyehatkan

Puji dan anak Baduy Dalam

Alam Baduy

Disatu kesempatan, aku menemukan dua buah lumbung dengan design yang berbeda. Satu lumbung dengan design khas Baduy luar, yaitu sebuah bangunan yang terbuat dari kayu dan berdinding anyaman bambu. Berbentuk persegi panjang, luasan dasar dan atapnya sama. Dasar lumbungberjarak antara 20 – 50 cm dari tanah. Sementara lumbung disebelahnya jauh lebih tinggi dari permukaan tanah, dan terdapat piringan yg terbuat dari kayu persis dibawah dasar lumbung. Fungsi piringan itu konon mencegah tikus naik keatas. Bagian atas lumbung Baduy Dalam lebih besar dari bagian bawahnya, seperti nampak pada foto berikut ini. Beruntung sekali aku menemukan 2 lumbung ini berdampingan. Karena di Baduy dalam kita dilarang memotret, jadi selama ini aku hanya bisa mendiskripsikan tanpa bisa menunjukkan fotonya. Barangkali ini satu-satunya prototype lumbung Baduy Dalam yang terdapat diluar kawasan Baduy Dalam.
 
Design Lumbung Baduy Luar dan Baduy Dalam

Lanjut ke Wonderful Baduy (Part 4)
Cerita ini juga dimuat di http://www.khatulistiwa.info/2013/09/kembali-ke-baduy.html

Wonderful Baduy (Part 2)


Masyarakat Arif Baduy
 June 5, 2013


Melintasi hutan, menuju Baduy Dalam

Sudah dua jam kami berjalan tapi Herman bilang ini belum lagi sepertiga perjalanan. Wah… aku agak khawatir kita baru akan sampai di pemukiman Baduy Dalam setelah gelap.  Rombongan ini terlalu santai dalam menempuh perjalanan, kami harus mengurangi istirahat agar bisa tiba sebelum gelap. Tak terasa kami menemui satu lagi jembatan Bambu diatas sungai. Ada kawan yang mengingatkan, diseberang sana adalah wilayah adat Badui Dalam. Berarti kita harus siap-siap mematuhi segala ketentuan yang disyaratkan untuk boleh memasuki kawasan Baduy Dalam. Antara lain tidak boleh memotret, dan aku puas-puaskan memotret disini.

Lumbung Baduy Luar, tepat setelah jembatan Cimarenggo
Masyarakat Badui Dalam memang memiliki adat atau aturan yang jauh lebih ketat dibanding Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam, begitu juga tamu yang memasuki wilayah ini harus mematuhinya, tidak ada technology seperti listrik, mobile phone dsb. Tidak ada  chemistry seperti sabun, pasta gigi dan shampoo yang bisa mencemari lingkungan.  Sambil terus berjalan kami banyak berbincang tentang adat istiadat dan tata kehidupan Baduy yang bersahaja. Orang Baduy mandi di sungai, tanpa sabun, mencuci tanpa sabun, sebagai gantinya mereka menggunakan bahan dari tumbuhan yang di Jawa dulu kita kenal sebagai “klerek” untuk mencuci. Kami hanya diperbolehkan menginap satu malam saja, jadi besok kami harus meninggalkan kawasan ini, itu sudah adat, tak bisa dilanggar…

Alam Baduy
Hari hampir gelap ketika kami tiba di pemukiman Baduy Dalam. Sepintas tidak ada bedanya dengan pemukiman Baduy Luar yang sudah kami lewati sebelumnya. Kami mendapat tiga rumah untuk bermalam, satu rumah untuk rombongan wanita, dan dua rumah untuk rombongan pria. Aku sendiri menempati rumah yang kebetulan adalah rumah Herman, teman seperjalananku. Kami istirahat duduk-duduk diteras rumah yang baru aku sadari bahwa ternyata berbeda dengan teras rumah Baduy Luar yang tadi aku singgahi. Teras rumah Baduy Dalam hanya selebar sekitar 1 meter saja, sementara teras rumah Baduy Luar bisa 2 meter atau lebih. Sayang sekali kita tidak bisa mengabadikan keadaan disini dengan photo.

Rumah Baduy Dalam, tidak berjendela, hanya memiliki satu pintu yang juga terbuat dari bambu dan tidak berkunci. Herman bilang disini aman, kriminalitas 0 %, namun masyarakat Baduy Dalam tetap memiliki kegiatan meronda, khususnya di siang hari, terutama ditujukan untuk mengantisipasi kalau kalau ada tamu yang datang, atau untuk mengecek apakah ada api yang belum padam dari dalam rumah rumah Baduy Dalam tersebut. Ya, Rumah Baduy Dalam, setidaknya dari rumah Herman yang kami tempati, seperti halnya rumah Baduy Luar terbuat dari kayu, dan Bambu, berdinding anyaman bambu, dan berlantai bambu, dan ada 2 tungku diatas lantai bambu tersebut. Dijlaskan bahwa diatas lantai bambu tersebut dilapis dulu dengan tanah liat baru diletakkan tungku diatasnya berbentuk seperti bangku dan dibagian tengah bolong. Tungku ini dibuat dari campuran tanah dan serat kayu, padat kuat dan tidak terbakar. Mereka memasak dengan menggunakan kayu bakar di dalam rumah, tetapi anehnya tidak banyak asap dan tidak terasa pengap.

Ukuran rumah Baduy Dalam sepertinya seragam, sekitar 6 x 6 meter persegi, berbentuk segi empat. Dipojok belakang dibuat lagi satu ruangan berukuran sekitar 3 x 3 meter persegi, tanpa pintu, dan ada satu lagi tungku didalamnya. Sederhana sekali, tanpa perabotan apapun, kosong, mungkin karena memang orang Baduy tidak memerlukan perabotan. Perkakas yang kami temui dan agak berteknologi hanyalah panci untuk memasak air, botol tempat air putih yang dihidangkan kepada kami, sendok dan piring. Gelas pun terbuat dari bambu yang dipotong melintang dan bibir gelasnya disayat tipis sehingga memudahkan kita meminum air dari dalamnya. Rasanya piring dan sendok itu ada karena utk menjamu tamu seperti kami. Hanya ada satu penerangan di rumah ini, lampu tempel yang terbuat dari bambu dan didalamnya diltakkan mangkok kecil berisi minyak kelapa, lalu sumbu terbuat dari kain dimasukkan kdalamnya dan ujungnya yang akan disulut dengan api. Mereka tidur tanpa alas dan tanpa bantal, sangat bersahaja.

Air mereka ambil dari sungai dengan menggunakan potongan bambu diantara dua buku, dan di salah satu ujungnya disisakan sedikit untuk pegangan, persis seperti kentongan di kampong kampong di jawa yang biasa dipakai sebagai alat music, yang digunakan saat bulan puasa  untuk membangunkan sahur. Cuma yang disini tidak dilubangi memanjang, tetapi di buat lubang kecil dibagian atas, dekat dengan pegangannya, yang fungsinya untuk memasukkan air dan mengeluarkan air. Mereka memiliki banyak kantong air seperti ini dan diletakkan di teras didekat pintu masuk, rupanya  setiap mereka pergi ke sungai selalu membawa “kentongan air” ini untuk diisi dan diletakkan di teras rumah sebagai persediaan, baik untuk masak maupun sekedar cuci tangan atau kaki.

Malam itu kami mandi di sungai, rame rame kami menuju sungai dengan menggunakan senter. Kami diijinkan memakai senter untuk penerangan selama perjalanan kami dan kami mandi tanpa sabun, tetapi dengan dedaunan tertentu yang terdapat di pinggir sungai. Kami tidak gosok gigi dengan menggunakan pasta gigi, kami membasuh badan dengan air sungai yang jernih dan dingin. Segar, rsanya nyaman sekali, mungkin kami ter suggesti oleh fakta bahwa air ini murni tanpa tercemari. Kami memang sedang berada ditengah kemurnian alam. Sayang sekali kami hanya boleh menginap semalam disini.

Selepas mandi, kami segera menuju rumah dan melaksanakan sholat berjamaah bergantian. Herman menunjukkan arah kiblat kepada kami. Lalu sejenak kami  diskusi mengenai keyakinan, seperti penuturan Herman,  Masyarakat Baduy  menganut agama kuno “sunda wiwitan”, nabinya “Adam”. Kami tidak sempet bertanya mengenai ritual-ritual yang dimiliki, tetapi dari kuatnya mereka mempertahankan adat leluhur yang amat luar biasa ini, serta betapa taatnya mereka menjaga tradisi ini, saya sempet berangan-angan, jangan jangan mereka memang keturunan Adam. Dan dulu Adam pernah tinggal disini..he..he..  Mereka adalah orang-orang yang murni dan hidup dialam yang murni, cukuplah menjadi  cermin buat kita yang hidup di luar Baduy, seberapa besar kontribusi  kita terhadap perusakan Bumi…

Sejenak malam itu aku “nongkrong” diluar. Dan ketika menengadah ke langit… wow… luar biasa indah… Langit malam itu dipadati oleh bintang bintang yang cemerlang, bintang bintang itu seperti berhimpit himpitan, pemandangan yang sudah bertahun tahun aku tidak pernah melihatnya, udara yang murni tanpa polusi memberi ruang kepada bintang bintang menampakkan kecantikannya diantara silhouette pohon pohon.  Sekali lagi terimakasih Tuhan atas keindahan ini…

Pagi itu kami bangun ketika hari masih gelap. Aku bangun karena kedinginan, rupanya teman teman pada bangun karena alasan yang sama, kami sholat subuh berjamaah dan bergantian, lalu kopi terhidangkan. Dan tentu saja sarapan,  nasi putih, indomie rebus dan telor. Bahan bahan kami bawa dari Jakarta, dan Bu Herman memasaknya untuk kami. Beliau menambahkan ikan asin pada menu pagi ini, hmm nikmat sekali….. Aku memutuskan untuk tidak mandi pagi ini, alasannya dingiii…nn. Dan kami segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan meninggalkan Baduy Dalam,  melintasi rute yang lain menuju  jembatan akar. Herman mengingatkan untuk membawa bekal air yang cukup karena sepanjang perjalanan selama kurang lebih setengah hari nanti tidak akan menemukan warung yang menjual air…

Meninggalkan Baduy Dalam

Kami mulai perjalanan menembus perkampungan Baduy Dalam. Keluar melalui sisi lain perkampungan ini, dan mulai naik turun gunung seperti halnya perjalanan kemarin. beberapakali menemui persimpangan, dimana di jalan masuk persimpangan ini ditandai dengan dua ranting pohon yg diletakkan ditanah pada posisi menyilang, artinya kami dilarang masuk, karena jalan setapak tersebut mengarah ke “hutan larangan”. Daerah yang tidak boleh sembarang orang memasukinya. Kadang-kadang daerah larangan tersebut ditandai dengan bambu yang dipasang menutup jalan seperti halnya portal di perumahan di Jakarta. Kami juga melewati jembatan bambu, serta jembatan yang terbuat dari batang kayu besar yang diletakkan begitu saja diatas sungai kecil. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan orang Baduy Dalam, dengan pakaiannya yang khas, mungkin baru kembali dari ladang…

April dan Herman
Pakaian orang Baduy Dalam memang khas. Yang pria, dengan membelitkan kain berwarna hitam dipinggangnya, seperti sarung sebatas lutut, dan diikat dengan kain. Sebuah golok berukuran sedang terselip dipinggang. Berbaju lengan panjang sampai bawah siku, berwarna putih atau hitam, dan kain putih yang berfungsi seperti udeng, untuk menutup kepala dengan cara dibelitkan atau diikat di kepala. Mereka selalu membawa buntelan yang terbuat dari bahan kain putih, dan diselempangkan di bahu, mungkin ini untuk membawa segala keperluan mereka selama perjalanan baik keluar wilayah Baduy atau ke ladang. Pakaian wanita Baduy, hampir sama. Untuk baju, tanpa kancing, cara memakainya mungkin seperti memakai kaos oblong, sementara untuk sarung yang dikenakan sampai sebatas tumit, dan tidak ada golok yang terselip di pinggang. Kain bahan pakaian ini diproduksi sendiri oleh Masyarakt Baduy, ditenun sendiri dengan alat tenun tradisional.
Seperti inilah barangkali nenek moyang kita dahulu, ratusan atau ribuan tahun yang lampau hidup bersahaja di alam yang murni.

Anak Baduy dalam, dan Jembatan Akar
Ditengah perjalanan, kami menemui sebuah pondok, nampaknya pondok ini memang disediakan untuk istirahat, disitu tersedia teko yang sudah berisi air dan gelas, boleh diminum oleh siapa saja yang memerlukan. Kami sempatkan istirahat sebentar, dan ritual pribadi memeras handuk yang basah karena keringat he..he..   lalu melanjutkan perjalanan. Setelah menyeberangi sebuah sungai kecil, kami diberitahu bahwa kami baru saja keluar dari Wilayah Badui Dalam, wow.. Spontan aku ambil camera dan mulai lagi jeprat jepret. Setelah lebih kurang satu jam perjalanan lagi, akhirnya kami tiba di jembatan akar. Sebuah jembatan yang dibuat dari akar pohon yang masih hidup dan saling kait mengkait tidak beraturan, dialasi bambu untuk kaki berpijak dan melangkah melintasinya. Aku sempatkan memotret seorang bocah Baduy dengan pakaian khas Baduy. Jembatan ini memang luar biasa, alami dan akar-akar itu adalah akar pohon yang masih hidup, sehingga tentu saja cukup kuat. Puas memotret aku melanjutkan melangkah kaki mengikuti jalan setapak sampai ketemu sebuah perkampungan Baduy Luar, dan aku beristirahat di teras salah satu rumah yang menjual minuman ringan. Sebotol air mineral habis aku lahap lalu aku peras keringat di handuk kecilku, dan anak anak Baduy tertawa-tawa melihat tingkahku. Mungkin karena mereka jarang atau bahkan tidak pernah berkeringat sampai seheboh itu.

Rumah Tingkat, Baduy Luar

Perkampungan Baduy Luar ini berada di dusun Gerendeng, Desa Kayagati, tetapi penghuninya adalah orang-orang Kanekes. Di pemukiman ini aku menemukan sebuah rumah Baduy yang bertingkat, rasanya ini satu satunya, karena aku tidak pernah temukan sebelumnya. Di dusun ini aku sempet mengabadikan bagaimana para wanita menumpuk padi untuk diambil berasnya.

Baduy Luar, menumbuk padi

Pemukiman Baduy, khususnya Baduy Dalam, memang secara geografis terlindungi dari kontaminasi unsur-unsur luar. Lokasinya, berada ditengah-tengah hutan dan dikelilingi gunung-gunung, sementara untuk mencapainya hanya dengan satu cara yaitu berjalan kaki menembus hutan, mendaki dan menuruni lembah-lembah selama berjam-jam. Maka secara alamiah, kehidupan masyarakat Baduy dengan segala kearifannya bisa bertahan dan terjaga hingga saat ini. Tanpa bermaksud mengabaikan pentingnya pendidikan dan teknologi bagi kesejahteraan umat manusia, bahwa apa yang kita lihat dan rasakan tentang masyarakat Baduy sungguh sebuah pengingat bagi kita tentang sejatinya hidup, tentang damai, sejahtera, dan bahagia di bumi, harmonis dan menyatu dengan kemurnian alam.

Semalam di Baduy, is such a wonderful experience… dalam hati aku berjanji, aku akan kembali, untuk belajar lebih banyak tentang wisdom-nya, tentang kemurniannya…
this is the wonderful of life… Wonderful Baduy.

Photo bersama, sebelum meninggalkan Baduy

Lanjut ke Wonderful Baduy (Part 3)
Cerita ini juga dimuat di http://www.khatulistiwa.info/2013/06/masyarakat-baduy-dalam.html