Thursday, July 14, 2016

Pangandaran, Menteri Susi dan Viking Lagos


Pantai Pasir Putih, kawasan Cagar Alam Pangandaran
Pangandaran, daerah tujuan wisata di pesisir selatan Jawa barat ini, semakin lama semakin bersinar saja. Dulu kita mengenal pangandaran karena pantainya dan cagar alamnya. Ada banyak penginapan disana, dari yang sederhana hingga hotel berbintang.

Pantai Pasir Putih, kawasan Cagar Alam Pangandaran
Kawasan Cagar Alam Pangandaran
Bule, mulai tertarik datang kesini utk surfing, maklum, ombak laut selatan memang cocok buat surfing, dampaknya ?, Pangandaran kini telah melahirkan atlet surfing.

Sunami Pangandaran 2006, meskipun tidak sedahsyat Sunami Aceh 2004, juga turut melambungkan nama Pangandaran, sebagai akibat dari pemberitaan media dan diskusi dunia sosmed.

Dan yang terakhir, Green Canyon, spot body rafting di Batu Karas Pangandaran, kini telah menjadi salah satu destinasi wisata andalan bukan saja lokal, tapi manca negara.

Saya, akhirnya sampai juga di Pangandaran pada liburan lebaran tahun 2016 ini. 16 jam waktu yang kami butuhkan untuk membelah jawa barat, nonstop, hanya berhenti sekali di pom bensin utk mengisi bahan bakar dan sholat, serta urusan toilet. Ternyata macetnya arus mudik bukan Cuma terjadi di brexit (Brebes Exit tol Cipali).

Pantai Batu Hiu, Pangandaran

Pantai Batu Hiu, Pangandaran

Sun Rise, Pantai Timur, Pangandaran
Lalu apa hubungannya Pangandaran dengan Menteri Susi dan Viking Lagos ?

Ya, Menteri susi adalah srikandi yang lahir, besar dan sukses menjelankan usahanya di Pangandaran.  Sepak terjangnya sebagai pribadi yang berjiwa sosial tinggi, dan kesuksesannya mendirikan Susi Air, mungkin adalah alasan utama bagi Jokowi untuk memilihnya menjadi menteri, penampilannya yang nyentrik, putus sekolah, tattoo di kaki, serta perokok tidak membuat Ia dijauhi publik. Kritik dan bully memang pernah ada, tapi semua tenggelam oleh keberanian, konsistensi dan kesungguhannya dalam menyelematkan kekayaan laut Nusantara, khususnya ikan, dari pencurian oleh kapal kapal asing.

Lalu Viking Lagos ?, ia adalah nama sebuah kapal baja tangkap ikan yang cukup besar, berbendera Nigeria, yang ditangkap oleh aparat Indonesia atas perintah Menteri Susi. Viking Lagos tidak diledakkan sampai hancur berkeping-keping seperti puluhan kapal asing yang lain yang berhasil ditangkap. Viking Lagos dikandaskan di lepas pantai barat Pangandaran. Kami dapat penjelasan dari nelayan setempat yang kami sewa perahunya. Sang Nelayan sangat bangga pada Menterinya, Ia bercerita sangat fasih tentang Viking Lagos yang kini teronggok disana, sebagai simbol dan pengingat, bahwa kita sebagai bangsa kini punya harga diri.




Viking Lagos kini telah menjadi ikon atau landmark pantai Pangandaran.

Body Rafting Green Canyon, Pangandaran

Semoga pengelolaan wisata di Pangandaran semakin lama semakin kaya dan professional. Yang paling dibutuhkan oleh wisatawan adalah Kenyamanan, Keamanan, kebersihan, Keramahan, dan kekhasan budaya setempat. Yang terakhir ini saya belum melihat, budaya sunda yang amat kaya seharusnya bisa ditampilkan utk lebih menarik wisatawan, baik dari sisi arsitektur, music, tarian, fashion, bahkan makanan. Semoga Budaya segera dikelola menjadi “produk” wisata pangandaran sehingga semakin menambah daya tarik....



Thursday, March 10, 2016

Kandank Jurank Doank

Kandank  Jurank  Doank, nama yang biasa, tapi unik, nakal dan menggoda...
Memang unik, apalagi tiga kata itu semuanya diahiri dengan huruf "nk" sebagi pengganti "ng"
Siapa pun yang membacanya akan tergoda untuk sejenak berfikir dan bertanya, apa maksudnya ?
Jika kita berpikiran seperti itu, maka ‘bingo’ .... kena... itu yang dimauin si empunya ‘surga’ kecil ini, Dick Doank. “Allah suka yang unik, yang beda, yang indah”, katanya kepada rombongan ibu-ibu Fatayat NU dari Buduran, Sidoarjo Jawa Timur, yang saat itu hadir dan mendengarkan ‘khotbah’abang ganteng di lantai 2, studionya.  Ibu-ibu Fatayat NU ini rupanya tidak sanggup menahan godaan, dan bertanya langsung pada Dick Doank.”Yang unik, yang beda, yang indah itu yang menarik perhatian manusia”, lanjutnya.

Dick Doank dan Kandank Jurank Doank
Apa itu Kandank Jurank Doank ?
Tempat wisata ?, Taman bermain anak-anak ? Outdoor activity ? Tempat wisata Ruhani ?, yup, semuanya bisa benar. Bahkan lebih dari itu, disini tempat anak muda kreatif berkumpul, berkarya, dan memamerkan karyanya. music, vokal, lukis, seni rupa, digital art, apa saja. Semua boleh tampil disini, menggunakan fasilitas yang ada, dan gratis. Pengunjung yang berniat wisata pun datang dan menikmati semua fasilitasnya tidak dipungut biaya, gratis.

Lalu dari mana semua ini dibiayai ?
 “Saya santai saja mas menjalani hidup ini, ikhlas, ada saja dermawan yang meyumbang, studio ini pun ada yang menyumbang” kata Om Ganteng. Dick Doank memang terlihat relax, apa adanya. Kaos oblong, celana kombor, dan topi, dipadu dengan kacamata frame hitam seolah menjadi ciri khasnya, bersahaja. Bicaranya adalah dakwah, sufistis. Ia sangat religius, meskipun suka bercanda namun sebagian besar ucapannya adalah ‘bahasa langit’, begitu kawanku berkomentar.

Abang Ganteng yang berwajah adem, teduh, menjamu ibu-ibu Fatayat Nu itu dengan lagu-lagu dan diselingi nasehat-nasehat ruhani, dengan bahasa yang ringan, berhias canda, sangat  prima, sehingga mudah dierima. Dan ibu ibu ini terlihat puas menyaksikan penampilan musical dan ceramah Dick Doank.

Sementara Abang Ganteng khusuk di studio, ratusan pengunjung diluar asik dengan kegiatannya masing-masing, dipanggung terbuka, disawah, dilapangan, anak-anak TK, SD dan beberapa keluarga bahagia menikmati liburan mereka.

Aku beruntung datang pagi-pagi, sebelum banyak pengunjung, jadi sempet ngobrol santai langsung dengan Om Ganteng, alias Abang Ganteng, Alias Dick Doank yang ditemani istrinya. Di warungnya disamping lapangan parkir yang luas.

santai bersama Om Ganteng dan Istri
Bungsuku dan Dick Doank
Sukses ya Abang Ganteng...
Teruslah nasehati kami dengan bahasa langitmu yang indah itu
Teruslah buka pintumu untuk anak muda yang kreatif itu
Bahagialah anak anak dan keluarga yang menikmati alam indahmu
Lain kali aku ingin mendengar kisah sahabat sorgamu
Semoga Allah senantiasa merahmatimu

Friday, August 21, 2015

Kampoeng Kopi Banaran

Kampoeng Kopi Banaran
­Bawen, Semarang, Central Java

Kampoeng Kopi Banaran
Java Coffee, has long been known globally, since the VOC or colonial era until now at the gadget age. As we know, Java Coffee has became inspiration of java software. Kampoeng Kopi Banaran is one of the producers of coffee in Java.

Search in google, with the keyword Kampoeng Kopi Banaran, guaranteed you will find dozens of articles written by various circles. Almost all of the articles you will find an atmosphere containing expressions of admiration to Kampoeng Kopi Banaran.


Kampoeng Kopi Banaran -Banner of facilities


Kampoeng Kopi banaran - the map


Kampoeng Kopi Banaran - Entrance to playing ground
When we were on the scene and feel the atmosphere, then I understand why they were sharing stories on the internet seem to want you visit there and come to admire.

Kampoeng Kopi Banaran, formerly named Banaran Coffee Shop, established in 2002. Located alongside a road of Semarang - Solo, KM 35 Bawen. From the direction of Semarang, the entrance on the right side, easy to find. From the city of Semarang, using a car, taken less than an hour. Since 2005, changed its name to Kampoeng Kopi Banaran, and the concept was turned from restaurant  into Agro Tourism. Because actually Kampoeng Kopi Banaran is Coffee Plantation, is an area which covers more than 400 hectares and is managed by PTPN IX. A stated own company in Central Java.


Kampoeng Kopi Banaran - Coffee Shop
Kampoeng Kopi Banaran - Main entrance at the road side

Kampoeng Kopi Banaran, in once harvest produces 3200 tons of wet coffee beans, or 700 tons of dried coffee beans. The product results are 80% exported to foreign countries such as Japan and Italy. Kampoeng Kopi Banaran is an example of a transformation, from a state-owned company for many years working in the plantations have now developed and diversified its business to Agro Tourism, Restaurant and Lodge. A very promising sector. Crop diversification in the field of its own plantations have also been carried out and become more productive, there are cassava, banana, etc. This effort would increase profits and employment.

Area which functioned as Agro Tourism is approximately 40 hectares. Located in the middle of a coffee plantation.  The whole area is of approximately 400 hectares. Being altitude 480-600 meters above sea level, the temperature is between 23-27 degrees Celsius, makes this green area is ideal for resting or for travel.


Kampoeng Kopi Banaran - Coffee Shop


Kampoeng Kopi Banaran - Banaran Cottage


Kampoeng Kopi Banaran - The Cottage
We can just stop by, just to enjoy coffee Banaran, which harvested from its own garden, produce and processed here. Or enjoy a typical menu of Café Banaran. Or deliberately, design your exciting holiday with family or colleagues, to stay here, at the cottage or camping ground, doing outbound activities, or other outdoor activity. Or for the purposes of business meeting, or gathering, or even a family gathering. Facilities to support those activities have been provided here.
Various facilities are available here:
A medium-sized swimming pool equipped with a large bucket, every 5 minutes the water poured into the pool. Kids outbound area, equipped with a flying fox, hanging bridge, etc. Play ground area for children, teenage, and adults. Completed with a variety of games.


Kampoeng Kopi Banaran - Relax


Kampoeng Kopi Banaran - Children play ground


Kampoeng Kopi Banaran  - Children play ground


Kampoeng Kopi Banaran  - Children outbound


Kampoeng Kopi Banaran  - Butterfly park


Kampoeng Kopi Banaran  - Butterfly park
Coffee walk, is tour around the coffee garden by semi off road car, or you want to try cruising gardens using guided horse, or if you want to test the adrenalin can rent an ATV. Or just walking around the complex of Kampoeng Kopi Banaran by using a golf car.

Meeting rooms of various sizes, suitable for business meetings, corporate gatherings or family gathering even if it must to stay, because the available cottage is representative. Gazebos scattered throughout the area, good for relaxing and enjoying green surroundings, or rent a mat and relax on grass and breathing fresh air. No need to bother with the food, everything you need is available here. Just choose, order, and enjoy the menu.

Kampoeng Kopi Banaran - Gazebo
 
Kampoeng Kopi Banaran - tracking

 
Kampoeng Kopi banaran - through the jungle of coffee


Kampoeng Kopi Banaran - Meet jungle guard

Kampoeng Kopi Banaran - enjoy the trees
 
Kampoeng Kopi Banaran - relax at gazebo

Kampoeng Kopi Banaran -  the plantation
Do not forget to butterfly garden, if lucky, when the air is bright and cloudless, various types of butterflies flew out of the nest around you.

There is also a Fruit Garden, mushollah, and tennis courts, you imagine playing tennis with a view of the surrounding green ....


I recommend you to come to Banaran 9 resort hotels, there is a café at its terrace, facing coffee plantation and Rawa Pening (Rawa Pening lake) behind it, and mount Merbabu as background. So beautifull…

Kampoeng kopi Banaran - café terrace
The Beauty of Kampoeng Kopi Banaran increasingly widespread, more and more known and visited not only by the Semarang and surrounding communities, but also other cities. Even Mr. President Soesilo Bambang Yudoyono had visited Kampoeng Kopi Banaran.
Kampoeng Kopi Banaran - Rawa Pening Lake view
In many countries, tourism has become source revenue, and Indonesia have a thousand of potential tourism destinations that are still have not developed yet, even untapped. Kampoeng Kopi Banaran has started something amazing, should be used as a reference for the development of other areas.

Kampoeng Kopi Banaran, has the potency to be developed further, for example: Olympic-sized of swimming pool, so that it can be utilized as official match venues for regional, national, and international level. Water Boom, Jogging track, Fitness or Gymnastic room, Futsal ground, etc. Tennis court can be expanded and enhanced, so that it can be used for international event. Large meeting room or hall, which can be used for indoor sports, or conferences, weddings party. Club with Live music , karaoke room, billiard, and other amusement venue. Facilitated with high speed wifi.

Kampoeng Kopi Banaran also need to think about outdoor activity, such as cable car, and team building arena including the facilitator.

Rawa Pening Lake, can be explored to be water attraction spot, or even water sport venue. And I just imagine if there is a resort or building with several floors at the lakeside, visitors will have excellent spot to look toward the beauty scenery of Rawa Pening. Of course everything was designed with adequate quality standards, so that it can be used for big events. National and international scale.

A few months ago, for the first time I visit, initially just wanted to enjoy lunch at the restaurant located at the side of the road. My impression on that time it was a cozy place, cool, not crowded, big parking spaces and comfortable atmosphere. Moreover, a typical menu, lots of traditional food menu. And of course, coffee Banaran ...

When I got a comprehensive explanation from Mrs. Iin - the manager here, so I was promised that one day I have to go with my family and stay here. And thanks God, Eid holiday yesterday that goal is reached.

Kampoeng Kopi Banaran - Touching the coffee bean

Kampoeng Kopi Banaran - Breakfast at coffee garden

Kampoeng Kopi Banaran - in the middle of coffee plantation

Kampoeng Kopi Banaran - Harvesting coffee

My children enjoy their vacation, happy staying at cool inn, spacious and large, surrounded by coffee plantation, they saw and touch and feel how is coffee plantation. And now they are understand where the coffee drink comes from. The view from the balcony was a green forest of coffee plantation. Breakfast in the coffee garden and talking to workers who harvesting coffee, are an unforgettable experience for them.

The photos above are quite enough to explain how wonderful the nuance of the Kampoeng Kopi Banaran. Complete, cozy, and have potency to be expanded in term of function, and business. Including developing of Rawa Pening lake.

I imagine, some day National Games, or Sea Games, or Asian Games conducting here at Central Java, and most of venues are here at Kampoeng Kopi Banaran. Palembang a city with less facility comparing to Semarang has successfully be a home of National Games and Sea Games, and soon for Asian Games. I believe Semarang able to organize the event as well.

I’m waiting for you Semarang…

Friday, July 31, 2015

Rawa Pening, Semarang, Jawa Tengah

Rawa Pening, nama ini begitu terkenal dan legendaries di dalam kisah-kisah cerita rakyat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Adalah sebuah daerah cekungan diantara gunung-gunung Ungaran, Telomoyo, serta Merbabu.

Rawa Pening
Rawa, umumya kita kenal sebagai dataran yang selalu digenangi air. Biasanya kita mengenal rawa di daerah dataran rendah di pinggir laut dan ditumbuhi pohon bakau. Jadi, wajar jika anda agak sedikit heran jika menemui kenyataan bahwa Rawa Pening bukanlah daerah pantai, tetapi ia justru terletak di tengah-tengah pulau Jawa. Dan Rawa Pening tidaklah ditumbuhi pohon bakau, melainkan enceng gondok dan lumut, dua-duanya lebih tepat disebut sebagai gulma (tanaman pengganggu) ketimbang tanaman endemic yang memiliki nilai ekonomi atau simbiosis mutualism dengan habitatnya.
 
Rawa Pening, foto udara google

Sejak jaman dahulu, sebagian besar permukaan Rawa Pening dipenuhi oleh enceng gondok. Kini, selain enceng gondok, pemandangan yang juga mendominasi permukaan rawa adalah bambu-bambu struktur Karamba milik masyarakat.

Rawa Pening, perahu dan enceng gondok
Jadi, Rawa Pening sejatinya adalah sebuah danau yang memiliki luas lebih dari 2600 Ha. Danau alami seluas itu, dibatasi oleh kebon, hutan atau sawah-sawah. Dan memiliki latar belakang gunung-gunung, jelas menjanjikan pemandangan yang menakjubkan serta pengalaman yang mengesankan bagi siapa saja yang mendatanginya dan menjelajahinya, apalagi bagi masyarakat kota yang hari-harinya diisi dengan kesibukan yang monoton dan melelahkan pikiran.

Rawa Pening, Karamba
Rawa Pening sebenarnya bisa diakses dari sisi mana saja. Tetapi untuk kemudahan dan kenyamanan sebaiknya anda menjelajahi danau ini lewat starting point “Kampoeng Rawa”. Kampoeng Rawa bukanlah sebuah kampung yang dihuni oleh sekelompok masyarakat, tetapi ia hanyalah sebuah nama dari lokasi wisata yang baru dibangun tahun 2012, seiring dengan pembangunan jalan lingkar selatan Ambarawa.

Kampoeng Rawa, dermaga perahu wisata

Kampoeng Rawa, terletak persis disisi kiri jalan lingkar luar arah Bawen – Ambarawa.  Sebagai tempat tujuan wisata, Kampoeng Rawa memiliki fasilitas yang cukup lengkap bagi keluarga, antara lain restoran Apung, lesehan dipinggir sawah dan menghadap ke kolam pancing, arena outbound, arena permainan anak-anak sampai ATV. Tetapi yang paling penting adalah, Kampoeng Rawa memiliki dermaga perahu wisata, dan menyewakan perahu bermesin kepada pengunjung yang ingin menjelajahi danau. Kampoeng Rawa telah membangun sebuah kanal yang cukup lebar untuk menuju ke tengah danau, sehingga semakin lengkaplah kemudahan fasilitas yang anda butuhkan disini.

Dengan tarif 110 ribu rupiah, kita bisa menjelejahi danau selama kurang lebih 30 menit. Perahu yang cukup besar ini bisa diisi sampai 8 orang. Terasa masih lapang bagi kami sekeluarga yang hanya 5 orang.


Rawa Pening, kanal buatan
Rawa Pening, kanal buatan
Rawa Pening, kanal buatan
Rawa Pening, kanal buatan, bebek
Perjalanan dimulai dengan menelusuri kanal yang berair kecoklatan karena bercampur tanah sawah. Perahu meluncur tenang mengikuti kanal. Enceng gondok dalam ukuran yang kecil-kecil mulai memenuhi kanal. Perahu-perahu kecil banyak disandarkan dipinggir kanal, atau di letakkan diatas dinding kanal. Beberapa kelompok bebek berkeliaran disini, sepertinya milik warga sekitar.

Rawa Pening, menembus enceng gondok
Kanal mulai berbelok kearah kanan, dan diujung sana pemandangan Gunung Ungaran dengan Latar belakang Gunung Sumbing mulai memukau kami. Perahu terus meluncur mengikuti kanal lalu berbelok ke kiri, dan enceng gondok semakin lama semakin padat memenuhi kanal. Gulma ini mungkin terbawa arus dari tengah-tengah danau.

Rawa Pening, dan enceng gondok
Rawa Pening, happy family

Air danau sudah mulai jernih, tak berwarna coklat lagi, dan saya tak bisa menandai dimana sebenarnya batas ujung kanalnya. Tiba-tiba enceng gondok ada dimana-mana, sejauh mata memandang yang terlihat hanya enceng gondok. Seolah-olah ini bukanlah danau, tapi hutan enceng gondok. Perahu ini tetap maju menembus rimbunnya enceng gondok. Saya agak khawatir sebenarnya, takut baling-baling mesin perahu macet tersangkut enceng gondok, tetapi Pak Sukri si pengemudi perahu rupanya terlihat tenang, dia tentu sudah paham karakter danau ini dan tahu bagaimana menembus dan mengatasi enceng gondok. Sungguh sebuah sensasi tersendiri, berperahu menembus hamparan enceng gondok, sampai kami akhirnya berada di tengah-tengah danau yang berair bening, tenang dan luas.

Rawa Pening dan Gunung Merbabu
Rawa Pening dan Gunung Sumbing, dan Ungaran
Di kejauhan deretan karamba dengan bambu-bambunya yang menjulang diatas air tampak seperti hutan bambu kering. Gunung Telomoyo dilatarbelakangi oleh gunung Merbabu indah menghias disisi timur. Sementara disisi yang lain gunung ungaran tampak begitu anggun. Gunung sumbing dan gunung Sindoro samar-samar juga terlihat di kejauhan. Saya tak ingin kehilangan moment untuk mengabadikan pemandangan yang terhampar disini.

Rawa Pening, peace
Senyap, tenang… hembusan angin ditengah terik siang itu bersatu padu melingkupi pikiran kami. Hanya suara motor perahu yang bergerak pelan yang terdengar ditelinga kami. Ingin rasanya, seharian berada ditengah-tengah danau ini. suasananya sungguh syahdu…

Perahu-perahu dari pengunjung yang lain terlihat melintas di sisi yang lain, mereka mungkin merasakan kenikmatan yang sama seperti yang saya rasakan.

Rawa Pening dan Gulma
Saya membayangkan, seandainya danau ini dibersihkan dari semua gulma, tentu permukaan air danau ini akan tampak jauh lebih luas. Dan menyajikan pemandangan yang lebih indah dan menakjubkan. Disamping itu, bisa dimanfaatkan untuk kegiatan olah raga air seperti dayung, kano, speed boat, ski air dll.

Rawa Pening, sungguh menyimpan potensi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata alternative di Jawa Tengah, apalagi daerah disekitarnya adalah daerah tourist destination yang sudah lebih dulu ada dan memiliki iklim yang sejuk. Seperti daerah Ungaran dan Bandungan, dimana disana terdapat kelompok candi Gedong Songo. Juga Bawen yang memiliki kawasan agro wisata “Kampoeng Kopi Banaran”.  Ambarawa yang menyimpan sejarah masa perjuangan repubik ini, juga ada Museum kereta api Ambarawa. Ke arah Magelang sudah dekat dengan Candi Borobudur. Ke arah Solo dekat dengan dengan candi Prambanan. Maka tinggal menunggu niat dan kesungguhan pemangku wilayah Jawa Tengah untuk merubah potensi besar ini menjadi sebuah kenyataan…
 
Tak terasa, perahu ini sudah meluncur balik kearah dermaga pemberangkatan. Sudah hampir 30 menit kami menjelajahi danau ini, rasanya sangat singkat, tapi kami semua senang dan puas dengan pengalaman berperahu disini. kami berpapasan dengan seorang nelayan yang dengan tenangnya mendayung perahunya yang kecil, Ia berharap rejeki dari Rawa Pening.  Semoga Pak Nelayan ini mendapat ikan yang banyak.

Tak lupa, kami makan siang di lesehan Kampoeng Rawa, sambil duduk memandangi sawah yang sudah mengering karena habis dipanen, serta mengamati kesibukan orang-orang yang begitu banyak di liburan kali ini, menjadi hiburan tersendiri. Sambil menunggu makanan, kami sempatkan berfoto di tengah sawah yang sudah kering, sepertinya baru di panen. Langit biru berhias awan putih, hamparan sawah bekas panen yang masih terlihat hijau dan kuning, dan jauh disana puncak gunung Sumbing disentuh awan, landscape yang sempurna untuk sessi photo.
sayang sekali cuaca siang itu tidak benar-benar cerah, sehingga gunung-gunung Sumbing, Sindoro atau Merbabu tidak menampakkan wajahnya dengan sempurna.
 
Rawa Pening, sawah
Beberapa orang yang pernah berkunjung kesini, merekomendasikan kepada saya untuk datang lagi lain waktu, diluar musim liburan dan dipagi hari untuk mengabadikan sunrise dan nelayan setempat yang sedang menjaring ikan, wow, sepertinya luar biasa….

Anda yang tinggal di kota-kota sekitar Rawa Pening, seperti Semarang misalnya, beruntunglah…., dan bagi Anda  yang belum pernah berkunjung ke Rawa Pening, segera rencanakan berlibur kesini. Hanya kurang lebih satu jam saja dari kota Semarang.

Sampai jumpa lagi Rawa Pening….