Showing posts with label West Java. Show all posts
Showing posts with label West Java. Show all posts

Tuesday, August 16, 2016

Dream To Green Canyon (part 1)



16 jam lebih duduk dibelakang setir, nonstop, hanya sekali berhenti di POM bensin di daerah Ciamis untuk isi BBM dan urusan toilet. Adalah pengalaman luar biasa yang tak akan terlupakan. Begitulah keadaan jalanan sepanjang jalur nagrek menuju Ciamis, Kamis, 7 July 2016, Hari ke dua lebaran tahun ini.

Anak-anak sampai bingung sendiri, tidur, bangun, tidur lagi, bangun lagi, masih di jalan, untungnya mereka sudah siap mental menghadapi kemacetan ini. Pemberitaan di TV tentang kemacaten parah di Brexit membuat mereka menyiapkan diri untuk situasi ini, suasana di dalam mobil kami kadang senyap karena 4 orang wanita (istri dan anak anak pada tidur) lalu riuh dengan canda tawa dan cerita, senyap lagi, riuh lagi, begitulah perjalanan kami.

Semua demi cita-cita lama yang sebentar lagi jadi kenyataan, body rafting di Green Canyon, Pangandaran.

Kami tiba di Pangandaran pas waktu Isya. Rumah makan adalah tempat pertama yang kami cari, lalu menuju hotel yang sudah kami pesan secara online. Malam ini acaranya hanya satu, istirahat, menyiapkan fisik buat besok subuh, menikmati sunrise di pantai timur pangandaran. Sayangnya, pagi itu kami kurang beruntung, mendung menghalangi mentari pagi yang gagal nongol di cakrawala timur.

Sunrise, Pantai Timur Pangandaran
 Matahari baru menyapa kami dari balik awan, beberapa saat kemudian. Indah... tetap indah dan syahdu. Sumburat sinar kemerahan dan bulatan matahari itu seolah mengucapkan selamat pagi, sinarnya yang lembut cukup memberi kehangatan, mie rebus dan secangkir kopi menambah segarnya suasana pagi di Pangandaran. Perlahan pemandangan sekitar pantai mulai jelas, deretan warung, perahu-parahu yang di parkir di lepas pantai, juga bibir pantai yang kotor oleh tumpukan sampah. Orang orang mulai rame berlalu lalang berjalan di sisi deretan warung warung, entah apa yang mereka cari, kami lebih memilih duduk bercengkerama di warung menikmati suasana pagi yang indah ini.

Selamat pagi Pangandaran
Sampah
 Kami tinggalkan pantai meskipun sebenarnya masih ingin berlama lama menikmati pagi di pantai timur Pangandaran, kami harus membagi waktu, Jum’at hari pendek, sore harus sudah tiba di Batu Karas untuk body rafting di Green Canyon.

Pantai barat Pangandaran, kami tiba disana mengendarai mobil, sungguh keputusan yang salah, seharusnya kami jalan kaki, crowded sekali, mobil nyaris stuck, tidak bergerak, butuh waktu 20 menit lebih untuk bisa dapat tempat parkir. Jalan yang sempit serta terbatasnya lahan parkir menjadi penyebab kemacetan, terlalu banyak motor dan manusia berlalu lalang disini, maklum masa liburan lebaran. Di pantai, sama saja, penuh sesak manusia. Kami memutuskan menyewa perahu untuk berlayar mengelilingi cagar alam Pangandaran, menuju Air Terjun yang langsung jatuh ke laut.

Pemilik perahu merayu kami untuk berkeliling memutari tanjung cagar alam Pangandaran dengan sedikit tambahan biaya, saya setuju. Lalu kami mulai bergerak meninggalkan pantai Pangandaran, perahu bercadik ini sesungguhnya cukup sempit, sehingga kami harus duduk satu satu, semua menghadap kedepan, kecuali saya duduk paling ujung dan menghadap kebelakang. Kami mulai jauh meninggalkan pantai dan perahu-perahu lain yang hanya berputar-putar di teluk pantai barat Pangandaran. Lalu sang pengemudi memberikan pelampung kepada semua penumpang kecuali saya, mereka semua pakai pelampung, kecuali pengemudi dan saya. Perahu mulai berguncang guncang hebat, sehingga saya harus memegangi ujung dinding kiri kanan perahu agar tidak terpental. Anak anak mulai berteriak teriak riang setiap perahu terpental menyambut ombak yangmenghantam perahu. Saya menengok ke belakang, wow, ombak sekitar 2 meteran menuju perahu kami, saya semakin fokus memegangi perahu dengan sekuat mungkin agar tidak terpental. Karena posisi duduk saya diujung perahu, maka hempasannya sangat terasa, sampai perut saya terasa sakit. Anak anak meneriaki saya, Pa.... teriaaak. Mungkin biar gak tegang. Saya heran, tidak adah ekspresi ketakutan di wajah mereka, sementara saya begitu khawatir, kami satu satunya perahu yang keluar ke laut lepas, inilah ombak laut selatan yang sesungguhnya.

Perahu terus bergerak, lalu agak pelan dan bergerak kekiri mendekati pantai. Kami lihat dari kejauhan Air Terjun dg debit air yang cukup besar menyembur dari dinding tebing dan langsung jatuh ke laut. Saya lihat ombak besar langsung menghantam ke batu karang dibawah air terjun itu, dan airnya berbaur menyatu disana, saya pikir tidak mungkin kita mendekat karena ombaknya yang besar, perahu kami terombang ambing, tidak ada kesempatan mengambil foto, meskipun dengan HP, tangan saya tidak pernah lepas dari pegangan. Saya minta pengemudi mengarahkan perahu kembali ke Pantai Putih, ke Cagar Alam Pangandaran.

Pantai barat, Pangandaran
 Kami turun ke Pantai Pasir Putih, sama, crowded, penuh sesak dengan manusia, tidak ada pedagang disini, dilarang, karena ini cagar alam. Namun ada penyewaan alat snorkling, tapi kurang tertarik untuk snorkling disini. Kami sebentar saja disini, langsung balik ke Pantai barat lagi, maklum jumat, waktu terbatas.


Selepas jumatan dan makan siang, kami langsung check out, meninggalkan hotel menuju Green Canyon, destinasi yang sudah lama kami incar. Setengah jam lebih perjalanan menuju ke Batu Karas, Green Canyon, jalanan cukup sempit, namun kondisi jalan relative baik, sepertinya baru di aspal.

Setiba di Batu Karas, persis ditikungan yang ada jembatan, jalanan macet total, mobil parkir terdapat hampir diseluruh pinggir jalan dan halaman halaman rumah warga, serta guest house yang ada disana, kami melihat banyak papan petunjuk jalur evakuasi, saya sempet bertanya pada warga setempat, evakuasi apa ?, rupanya ketika terjadi sunami beberapa waktu yang lalu, kepanikan melanda warga disini.

Bermunculannya guest house dan operator body rafting adalah pertanda geliat pariwisata disini mulai tumbuh memberi penghidupan baru pada warga setempat, berkah Green Canyon. Juga turut mempromosikan Wonderful Indonesia, semoga negara dapat membantu semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tourist lokal maupun internasional.

Kami menuju salah satu operator, tapi rupanya hari ini, Jumat, tidak ada body rafting, karena waktunya pendek, terpotong sholat jumat, sementara waktu yang dibutuhkan untuk body rafting bisa 5 jam atau lebih, wow.... Hari jumat hanya ada penawaran menaiki perahu menyusuri sungai Green Canyon menuju hulu, hingga berakhir di jeran terakhir. Tidak, kami sudah bertekad untuk body rafting, jadi kami putuskan menginap disini, untuk esok harinya ber body rafting ria... Kami memutuskan menginap di salah satu guest house yang sederhana, tapi harga bak hotel bintang, maklum, musim liburan lebaran.

Pantai Batu Hiu
Sore ini, kami manfaatkan waktu untuk mengunjungi Pantai Batu Hiu, tidak jauh dari Batu Karas, ombak besar datang silih berganti seakan akan berebut mencakar pantai yang berpasir hitam. kami mendekat pantai, dan langsung di ingatkan lewat pengeras suara agar menjauh. Wow, rupanya ombak disini kurang bersahabat.
Pantai Batu Hiu
Pantai Batu Hiu
Sedianya, kami ingin stay disini mengabadikan sunset, tapi ternyata matahari tenggelam di balik gunung, bukan di cakrawala laut. 

Pantai Batu Hiu, view dari atas tebing
Lanjut ke Dream To Green Canyon (part 2)







Dream To Green Canyon (Part 2)



Body Rafting

Body Rafting, Green Canyon
Sabtu, 9 July 2016. Kami dijemput mobil pick up tepat pukul 7 pagi, persis seperti janji operator sore kemarin. berlima kami menaiki bak mobil, diantar menuju ke base camp operator body rafting, diperkenalkan dengan guide, diberikan seperangkat alat antara lain sepatu khusus, pelampung, dan helmet. Lalu diberikan pengarahan sebentar dan langsung menuju bak mobil lagi, bersama rombongan keluarga lain, ber 10 kami dibawa menuju starting point. Setengah jam lebih perjalanan menuju arah hulu sungai Green Canyon, menyusuri jalan aspal, lalu berbelok ke kanan menanjak, melewati jalan tanah menembus perkampungan, kebun dan hutan. Cukup mengerikan bagi kami, mengingat jalannya yang sempit, hanya cukup untuk satu mobil saja, serta konturnya yang naik turun. Perjalanan ini saja, sudah menjadi petualangan tersendiri bagi kami, tapi, seyogyanya pemerintah memperhatikan infrastruktur disini.

di basecamp
Menuju starting point
Dari dropping point, kami menuruni jalan setapak yang lumayan curam sampai akhirnya kami berada dibibir sungai, sedikit breafing dari pemandu, savety body rafting disampaikan dengan singkat tapi jelas, dan kami harus mengikuti petunjuk dari pemandu agar perjalanan berlangsung aman dan nyaman. Kami juga diminta untuk tidak bercanda dengan mengeluarkan kata kata yang tidak pantas, keren, ini cara bijak menghormati alam.

di dropping point
down to the river
Pelan pelan, satu persatu kami masuk ke sungai dan membiarkan diri dibawa arus yang tenang dan dingin.  Cadas di kiri kanan sungai mulai menyapa kami, dinding batu yang tinggi, dengan ornamen alami, dipayungi pohon di atasnya. Keadaan mulai gelap, sensasional.  Ada sedikit rasa gamang, tapi kami yakin ini safe, toh sudah ada ribuan orang sebelumnya yang rafting disini. Dan Guide yang tenang membuat kami merasa tenang pula.
Starting point
Enjoy Body Rafting
Kami memanggil guide kami dengan nama Bule, karena rambutnya yang dicat pirang. Bule mengarahkan kami untuk menepi dan melanjutkan perjalanan melalui batu batu cadas, karena didepan ada jeram yang cukup berbahaya, dinding dinding batu itu membentuk dirinya seperti stalagmit di dalam gua, ia terbentuk oleh tetesan air diatasnya,  yang mungkin terjadi selama ribuan tahun. Bisa dibayangkan alam yang perawan ini sejak penciptaannya, tak pernah dilewati manusia, sampai seorang turis Prancis menemukannya sebagai sorga yang indah untuk dinikmati, jadilah Green Canyon, wisata body rafting yang keindahannya kini bisa kita nikmati.

menghindari jeram

Enjoy Body Rafting

Enjoy Body Rafting, diguyur air dibawah tebing overhang

Pada beberapa spot kita seolah berada pada alam Jurassic Park, batu besar ditengah sungai, stalagmit, stalagtit, tebing over hang diatas sungai, akar akar pohon yang menjulur sampai ke permukaan sungai, serta air deras yang meluncur dari atas seperti hujan, sangat sempurna...  

Serasa di Jurrasic Park

Serasa di Jurrasic Park

Serasa di Jurrasic Park
Pada satu spot, sekali lagi kami harus menghindari jeram yang berbahaya, menepi, dan memanjat batu batu besar, berjalan diatasnya, aliran sungai yang deras antara 4 – 5 meter  dibawah kami, lalu pada ujungnya kami harus melompat ke bawah, menyebur ke air yang berarus deras dan harus langsung berenang dengan kuat ke arah kiri agar tidak terbawa arus dan masuk ke jeram yg dalam. Bule memberi arahan dengan tegas, lalu dia yang melompat duluan, sambil memberi contoh, langsung berenang kearah kiri, meraih batu untuk menahan agar tubuhnya tidak terseret arus, lalu memberi aba aba kepada kami untuk mulai melompat, Bule mencegat diujung sana dengan membawa tali atau sling untuk dilempar kepada kami jika gagal merapat ke sisi kiri.

Rupanya si bungsu ragu untuk melompat dari batu yang tingginya sekitar 2 meter diatas arus sungai, sejujurnya ketika saya melihat kebawah, ada juga rasa ngeri, karena gak ada jalan lain ya akhirnya melompat juga, dan byur... sejenak ada rasa kaget ketika berada di dalam air terbawa arus lalu muncul ke permukaan dan berenang sekuat tenaga ke arah kiri, Si bule berteriak teriak memberi semangat “kiri... kiri...”. Lumayan, sempet menelan air sungai ketika nyebur tadi. Bule meraih tangan saya dan menariknya ke batu, saya ikut memberi aba-aba ke anak anak untuk mulai terjun, satu persatu mereka terjun, dan ternyata, semua menelan air sungai..he..he..

Sibungsu, tak kunjung lompat, masih ragu-ragu, raut mukanya jelas menunjukkan kengerian, kami semua memberi semangat, ayo cantik, gak apa apa, kamu pasti bisa, saya lihat dia jongkok dan siap melompat, tapi mukanya seperti menangis dan tak kunjung melompat. Bule akhirnya susah payah merambati tebing disisi sungai, dan memanjatnya lalu menghampiri si bungsu dan merayunya, mengajak terjun bareng. Bule menggandeng tangan si bungsu, menghitung sama sama, dihitungan ketiga lompat bareng, dan Byur.... sukses.... kami istirahat sejenak di Batu yang ibarat pulau ditengah sungai ini.

Kami melanjutkan rafting, berselang seling antara melewati arus yang deras dan yang tenang, sehingga kami bisa saling bergandengan dan bercanda, atau diam menikmati indahnya lukisan alam, paduan antara hijaunya pohon pohon yang akarnya menjulur ke bawah, tebing tebing tinggi dengan garis garis sejajar arah arus sungai, atau tebing overhang yang memayungi kami.

Membiarkan tubuh kami telentang diatas sungai, menatap keatas, jauh diatas sana tebing dan pohon pohon itu seolah berjalan meninggalkan kami, padahal kamilah yang bergerak terbawa arus meninggalkan indahnya pemandangan itu.



Beberapa kali kami harus menghindari jeram dan merayapi batu batu besar yang indah, dihujani air dari atas entah dari mana asalnya, karena sedang tidak hujan. Kombinasi antara batu, tebing, sulur akar pohon, semburat air dari atas, serta suara derasnya arus dan gelapnya suasana pada beberapa spot, sungguh luar biasa, Indonesia memang indah... ini adalah petualangan yang tak terlupakan, seandainya ada kesempatan, pasti kami akan kembali lagi.

Sambil rafting, terkadang kami harus merayapi tebing agar tidak terseret arus dan terbawa ke jeram yang berbahaya, sampai ahirnya perjalanan body rafting kami berakhir di jeram setan, jeram terakhir, entah kenapa diberi nama jeram setan. Kami istirahat diatas batu besar, dipayungi tebing yang overhang dan menyatu  dari kedua sisi sungai sehingga membentuk gua, serta dihujani air dari atas. Tak terasa, 3 jam lamanya perjalanan body rafting ini.

Di titik ini kami dijemput perahu bercadik, bersama rombongan lain kami diantar ke tempat peristirahatan, menyusuri sungai yang cukup lebar, batas kiri kanan sungai adalah pepohonan yang padat, serasa di amazon. Tiba di dermaga perahu disisi kiri sungai, dermaga ini sengaja dibuat dengan konstruksi beton untuk kepentingan wisata, beberapa warung sederhana terdapat diatasnya, pedagangnya harus berjalan kaki menembus hutan untuk mencapai tempat ini.

Pisang goreng dan kopi panas, nikmat apa lagi yang dapat kita ingkari ?... 
Tuhan begitu baik pada Indonesia, semoga kita pandai bersyukur dan  bisa menjaganya

Sekali lagi kami dijemput perahu bercadik, menuju basecamp. Cuma kali ini hanya rombongan kami, satu keluarga saja, yang menaiki perahu, menyuri sungai green canyon yang seperti amazon, mengikuti arus menuju ke hilir, kurang lebih 15 menit perjalanan menaiki perahu, beberapa kali kami berpapasan dengan perahu yang berisi rombongan wisatawan, dengan camera ditangan, kasihan, mereka tidak tahu ada secuil sorga disini, yang hanya bisa dinikmati dengan body rafting.

Thursday, July 14, 2016

Pangandaran, Menteri Susi dan Viking Lagos


Pantai Pasir Putih, kawasan Cagar Alam Pangandaran
Pangandaran, daerah tujuan wisata di pesisir selatan Jawa barat ini, semakin lama semakin bersinar saja. Dulu kita mengenal pangandaran karena pantainya dan cagar alamnya. Ada banyak penginapan disana, dari yang sederhana hingga hotel berbintang.

Pantai Pasir Putih, kawasan Cagar Alam Pangandaran
Kawasan Cagar Alam Pangandaran
Bule, mulai tertarik datang kesini utk surfing, maklum, ombak laut selatan memang cocok buat surfing, dampaknya ?, Pangandaran kini telah melahirkan atlet surfing.

Sunami Pangandaran 2006, meskipun tidak sedahsyat Sunami Aceh 2004, juga turut melambungkan nama Pangandaran, sebagai akibat dari pemberitaan media dan diskusi dunia sosmed.

Dan yang terakhir, Green Canyon, spot body rafting di Batu Karas Pangandaran, kini telah menjadi salah satu destinasi wisata andalan bukan saja lokal, tapi manca negara.

Saya, akhirnya sampai juga di Pangandaran pada liburan lebaran tahun 2016 ini. 16 jam waktu yang kami butuhkan untuk membelah jawa barat, nonstop, hanya berhenti sekali di pom bensin utk mengisi bahan bakar dan sholat, serta urusan toilet. Ternyata macetnya arus mudik bukan Cuma terjadi di brexit (Brebes Exit tol Cipali).

Pantai Batu Hiu, Pangandaran

Pantai Batu Hiu, Pangandaran

Sun Rise, Pantai Timur, Pangandaran
Lalu apa hubungannya Pangandaran dengan Menteri Susi dan Viking Lagos ?

Ya, Menteri susi adalah srikandi yang lahir, besar dan sukses menjelankan usahanya di Pangandaran.  Sepak terjangnya sebagai pribadi yang berjiwa sosial tinggi, dan kesuksesannya mendirikan Susi Air, mungkin adalah alasan utama bagi Jokowi untuk memilihnya menjadi menteri, penampilannya yang nyentrik, putus sekolah, tattoo di kaki, serta perokok tidak membuat Ia dijauhi publik. Kritik dan bully memang pernah ada, tapi semua tenggelam oleh keberanian, konsistensi dan kesungguhannya dalam menyelematkan kekayaan laut Nusantara, khususnya ikan, dari pencurian oleh kapal kapal asing.

Lalu Viking Lagos ?, ia adalah nama sebuah kapal baja tangkap ikan yang cukup besar, berbendera Nigeria, yang ditangkap oleh aparat Indonesia atas perintah Menteri Susi. Viking Lagos tidak diledakkan sampai hancur berkeping-keping seperti puluhan kapal asing yang lain yang berhasil ditangkap. Viking Lagos dikandaskan di lepas pantai barat Pangandaran. Kami dapat penjelasan dari nelayan setempat yang kami sewa perahunya. Sang Nelayan sangat bangga pada Menterinya, Ia bercerita sangat fasih tentang Viking Lagos yang kini teronggok disana, sebagai simbol dan pengingat, bahwa kita sebagai bangsa kini punya harga diri.




Viking Lagos kini telah menjadi ikon atau landmark pantai Pangandaran.

Body Rafting Green Canyon, Pangandaran

Semoga pengelolaan wisata di Pangandaran semakin lama semakin kaya dan professional. Yang paling dibutuhkan oleh wisatawan adalah Kenyamanan, Keamanan, kebersihan, Keramahan, dan kekhasan budaya setempat. Yang terakhir ini saya belum melihat, budaya sunda yang amat kaya seharusnya bisa ditampilkan utk lebih menarik wisatawan, baik dari sisi arsitektur, music, tarian, fashion, bahkan makanan. Semoga Budaya segera dikelola menjadi “produk” wisata pangandaran sehingga semakin menambah daya tarik....



Tuesday, June 9, 2015

A Piece of Heaven on Papandayan Volcano



Volcano in Garut regency, West Java, is very disturbing my mind. Friends that have been there tell me that the beauty of the volcano, just like a heaven, it is make me so curious to visit Papandayan soon.

The panorama of Papandayan
Departing by public transport from  Kampung Rambutan Bus Station, Jakarta. I feel the atmosphere of the vacation or adventure had begun at the exit of the terminal. Hundreds of travelers with large carrier scattered in the stalls and on the sidewalk. They're willing to go to Papandayan like us, some of them wants to Mount Cikurai, there is also want to Mount Gede.

Using the bus, we left terminal Kampung Rambutan approximately on 11pm. Surprisingly, in this middle of the night, the bus we were riding has much effort to pass through the Cikampek toll road traffic jam. Even the bus has used the emergency road on the left side.  Finally, we arrived at the terminal Garut, at dawn. Then we headed to the mosque in Terminal area, for morning prayers. There is a moment that I really concern to, in the mosque. Hikers, or I call it tourists, dominates the room and the terrace of the mosque. After finished morning prayers, most of them did not immediately leave the mosque, but some are sleeping on the porch, or just sitting to get some rest, or grooming their packing. Some even cut vegetables and spices to prepare, perhaps in preparation for their camping supplies.

We were ahead of them to leave the terminal, using public transportation goes to the Cisurupan. We had to leave early to shop at Cisurupan. To have supplies consumption during hiking and camping later. That morning, although the sun has been greeted, but the air was still pretty cold. Until we had to wear warm clothes, and then we had breakfast here, raise energy to hike later.

Papandayan view, from Cisurupan village
Pickups, is the only option to continue the trip to the last terminal near the volcano. Together with the other travelers, we set out explore the narrow road, uphill and a lot of holes here and there.  Papandayan Volcano on the one side and on the other side of Mount Cikurai appeared calm and graceful. Once in a while, a group of children on the sidewalk shouted at us with the word “domba..domba ...”  For them, perhaps only viable sheep riding pickups. Very funny ... but we enjoyed it anyway.

View of Papandayan, from the starting point of hiking
Arrived at the last terminal near volcano, I saw many cars parked there. Parking space here was quite wide, and surrounded by stalls. I felt the cold air stung my skin that morning. I saw a few tents on one side of terminal land, maybe they arrived yesterday and it intends to stay here, and then start hiking today. Looking towards Papandayan, I saw control tower on the left and on the distance white smoke billowing move up, it must have been from the crater Papandayan. There is a passion feeling to arrive there soon.

While taking care of permits to enter the area Papandayan, I saw a few tents, among the trees. Men and women who sleep in the tents are still idle and relax, they might just woken up, they probably arrived here yesterday afternoon to begin the hiking this morning.

start to hike
We immediately started to walk across the road uphill, the road filled with white color stone. There were traces of asphalt there, it looks like the asphalt has been eroded by water when ever rain fall, and living chipped foundation consisting of white stones. My breath just start to wheezing, and legs begin to feel heavy, because the road is uphill, the road is ramps, but continues to climb. Some group in front and behind us seemed to suffer the same fate. We walked a bit sluggish. Already visible in front of the ridge was belching smoke, yes ... that's crater Papandayan, that in fact, no, not exactly on the peak of the volcano, but on a hill facing towards the parking area. So the view was enough to make us curious to soon get there.

Continue hiking
 
Get rest
Continue hiking, crossing the white rocks, which dominates the track to the crater Papandayan. Until we arrived at the side of the crater, we were looking for a comfortable place to just get rest and enjoy the crater. Despite the hot sun at the time, but the air is really cool, calm, almost no wind, so the smoke coming out of the earth was moving slowly and gracefully upwards. A loud hissing sound heard, like the sound of a pot of boiling water in our homes. Sulfur smelt light, so we did not need to wear a mask.
 
At the lips of the crater
The crater of Papandayan Volcano
Staring at the crater of the lips, feeling light sulfur aroma, listening to loud hissing sound coming out of the crater due to the heat of the magma from the earth, feel the sunbathe and cool air of Papandayan. So, what a favors we should be thankful?, Thanks God ... The weather today is very nice, we really enjoyed and we feel at home for a long time here.

Black forest and Cantingan woods at background
We woke up, and hike, sweat and fast breathe are ours. “Pondok Selada” Camping Ground was our goal. Keep hiking until it finds a slightly sloping path, and we saw large areas, full of white stone and soil. Stands above the trees with black trunks and branches, no leaves, people call it dead forest. There is also nicknamed the Black forest. It was formed by the eruption in 2003. The very hot cloud, that burst out of the crater Papandayan, causing all life here dead. Until now, the area affected by the hot cloud or hot air is not yet recovered to normal. In contrast to Merapi volcano, which also I have ever visited, two years after the eruption, the area around Merapi is back green.
 
Telungatus at black forest
Do not asked how wonderful paintings of this nature ... No wonder my friends said, visit papandayan, and you will found a piece of heaven there. And now, my other friend who hike with me today, told me “don’t worry brother”, tomorrow we will found another cooler paradise ”Tegal Alun”. I was stunned, what a beauty again…, that I will found here in Papandayan?

In the middle of black forest
Continue to walk through the “black forest”. Woods to die, stems and twigs scattered on the ground, into charcoal, burnt black. Up to the edge of the dead forest, we crossed the overgrown forest endemic plants, trees of “Cantingan”. Branches are a lot, the leaves are small and dense, so it looks lush. Soon “Tegal Alun” has been in front of the eye. Is an open area that is quite extensive, near sources of water, it is ideal to set up a tent. Unfortunately tents have been crowd this area, we then, find a place a little far outside the camping ground.

Two tents
Two tents covered by flying sheet, among Cantingan trees, quite ideal. Then we roll the mat, preparing Trangia (cooking tools), and vegetables and spices. Now is time to cook for lunch, as well as preparations for dinner tonight and breakfast tomorrow morning, before climbing  to Tegal Alun.

to prepare dinner
By the time, the sky grows to dark. And once again the feast. That night we failed to make a bonfire, probably because there is no branch that is completely dry, all wet due to the rain the previous day. And we turned on the flashlight all night for lighting. The night air is very sunny, no clouds that block the sky, the stars scattered filling the sky, beautiful, very beautiful ... we will not meet the starry night sky like this in Jakarta. Stars, crowded blinking, as if they were talking to each other, it’s a magnificent night ...

two tents at night
12 o'clock at night we just go to sleep, go to tent, and come inside the sleeping bag. We can’t hold the cold outside anymore, although our jacket doubled, wear a head covering, as well as gloved hands. Fingers stiff to be moved, even to use the camera. At 3 am, I woke up and it was hard to sleep well, cold still stung despite being wrapped in a sleeping bag. That morning we were out of the tent when the sun was bright greeting, and cold still make the body feel stiff.

creeping the rocky dry river
We packed up and bring food for breakfast later in Tegal Alun, we don’t bring the tents, and other supplies, so we don’t overburden when we climb to the Tegal Alun. I saw the group of other climbers have also been packed up, and some have already left the Pondok Selada next to another paradise, Tegal Alun. All the group moving toward the black forest, to further climb toward Tegal Alun. But we chose another path, the extreme one, after hiking thru the cantingan trees, we continue to climb following the rocky dry river, go upward, and creeping slowly. When I stop to get some rest, and looking down, wow ... Pondok Selada looks so beautiful, decorated by colorful tents scattered there.

Pondok Selada camping ground

Edelweis valley
We continue to climb rocky dry river, and was lucky not raining. Imagine if it rains, of course the flood will sweep us. Finally we reached the valley that so vast. In the left and his right is a green hill with trees cantingan. While the bottom of the valley, filled with edelweiss, the pretty perennial flowers. Plants that are included in the category "endangered species" and of course protected by the state. We continued walking through the valley following the huge edelweiss. Until arrived at the end of the valley and climbing the hill overgrown by Cantingan. Behind this hill Tegal Alun located. When arrived at highest land, I saw the vast plain overthere, and smoke as a background from the crater Papandayan, oh that is the Black Forest ...

Black Forest or Dead Forest
We turn left and down the hill through the woods cantingan. Till the edge of the forest, suddenly wide meadows spread in front of us, with some huge edelweiss there on, and a puddle of water on the other like a calm lake with clear water. The atmosphere is quite a contrast from the dense forests, moist and dark, suddenly turned into a bright world, with landscapes that are green, clean, beautiful ... very amazing.

A small lake

Meadows

Sea of edelweis
We continue walking across the meadows, I saw out there clump of green, surely it edelweiss, that is Tegal Alun, the sea of edelweiss, so  beautiful so amazing ... We kept coming, and towards the edge of the forest to have shelter and prepare breakfast, or I prefer to say it was half lunch, while looking at the edelweiss ocean. I absolutely agree with my friends, that it is the next heaven following the black forest. Thousands edelweiss hopefully remain immortal, and no one bothered him. So that all who visit here, can enjoy its beauty.

The sun is already above the head when we left Tegal Alun. We walking through the woods Cantingan and continue down the valley toward the black forest. Be witnessed over a stretch of the dead jungle here. Completely different nuance, than when we crossed yesterday. The dish of the scenery was different. Arriving in the middle of the black forest, surrounded by dry trees, without leaves, stems stay charred black, gives a different sensation. Just like not in Indonesia, but surely, this is my beautiful Indonesia. Once again we linger here, and take photos of this special moment until we feel satisfied.

Thru the black forest

Sceenary of black forest

Black forest and the mountain behind
 That afternoon, we returned to Pondok Selada camping ground, to dismantle the tents and packing. Get ready to go back to Jakarta, to think about the next trip. Thinking of the other beautiful Indonesia, we choose to visit ...