Showing posts with label Pekalongan. Show all posts
Showing posts with label Pekalongan. Show all posts

Saturday, May 16, 2015

Pekalongan, Loji, dan Nelayan (Part 1)

Pekalongan

Kota dipesisir utara ini tak banyak disebut di sejarah Nusantara. Baik dimasa Mojopahit, atau Mataram. Tak ada juga cerita Cheng Ho berlabuh disini. Dimasa lalu, Pekalongan tak setenar kota-kota lain disisi pantura seperti Cirebon, Semarang, Jepara, Tuban, Gresik. Tapi kota ini sesungguhnya menyimpan misteri yang menarik.

Masjid Agung Pekalongan
Disebuah buku yang aku pernah baca beberapa tahun lalu, disebutkan bahwa dikota inilah Loji pertama dibangun di Indonesia. Loji, adalah sebuatan lain untuk Sinagog, tempat ibadah orang-orang Yahudi. Sementara sumber lain mengatakan Loji pertama dibangun di Batavia (Jakarta).  Yang menarik adalah latar belakang dibangunnya Loji di Pekalongan, konon pembangunan Loji terkait dengan strategy VOC  / Belanda dalam usaha menguasai Nusantara. Teorinya sederhana, jika VOC berhasil menguasai / mengambil hati masyarakat Pekalongan maka kota-kota lain dan Nusantara akan dengan mudah bisa dikuasai. Pertanyaannya kenapa Pekalongan yang dijadikan barometer ?

Penamaan Loji juga menjadi sebuah pertanyaan sendiri, Loji dipilih menggantikan Sinagog sebagai nama asli tempat ibadah orang-orang Yahudi. Loji lebih terkait dengan kegiatan freemasonry, Loji pada ahirnya juga menjadi tempat berkumpul tokoh-tokoh lintas agama dan melakukan kegiatan yang berbau mistis, sehingga sebagian masyarakat menyebut Loji sebagai gedung setan, karena dikira kegiatan mereka dalam rangka memanggil roh halus atau setan. Jadi, jika menggunakan nama Sinagog, mungkin akan mendapat resistensi yang luas dari masyarakat Pekalongan yang agamis dan islami. Dengan Loji dan freemason-nya, belanda berhasil merangkul tokoh-tokoh local khususnya dari kalangan Islam.

Kembali ke pertanyaan awal, kenapa Pekalongan ?. Di kota batik ini masyarakatnya dikenal religious, santun, tatakramanya apik, lebih mirip masyarakat Jawa pedalaman ketimbang pesisir yang lebih bebas dan terbuka. Bertahannya industry batik masyarakat di kota ini adalah contoh dan bukti bahwa masyarakat Pekalongan yang mayoritas Muslim ketika itu kreatif, produktif dan berjiwa dagang. Kombinasi antara religious dan kreatif produktif, serta santri ini mungkin membentuk karakter dan system social budaya tersendiri, dan resistance terhadap culture eropa/ belanda. Maka itu Belanda merasa perlu memprioritaskan merangkul masyarakat Pekalongan sebagai strategy penaklukan non militer, jika berhasil maka masyarakat kota lain akan lebih mudah dirangkul (baca : ditaklukkan secara social budaya).

Begitulah kira-kira latar belakang kenapa Pekalongan menjadi kota yang penting bagi Belanda. Dan aku, sudah lama berkeinginan meng eksplore Pekalongan, sampai kesempatan itu akhirnya tiba.

Jembatan Loji dengan latar belakang Masjid Al-Ikhlas
Jembatan Loji dengan latar belakang Gereja 
Loji adalah obyek pertama yang aku cari. Pak Zainal Abidin, teman baruku, asli pekalongan, membantuku menjelajahi Pekalongan, kami menuju sebuah jembatan yang bernama jembatan Loji, orang-orang disekitar situ menyebut sungainya adalah sungai Loji, padahal nama sungai yang sebenarnya adalah sungai Kupang. Nama Loji ini pasti terkait dengan gedung Loji, tetapi gedung itu sudah tidak ada, warga setempat memberitahuku bahwa dulu memang ada bangunan yang disebut  gedung Loji, tapi sudah lama dibongkar dan berubah menjadi sebuah rumah biasa yang cukup mewah, terletak disebelah barat jembatan, diseberang Masjid Al-Ikhlas.

Klenteng Po An Thian
Disekitar jembatan Loji ini ada pula gereja dan klenteng, juga bangunan tua bekas kantor residence di Jaman Belanda.

Tidak banyak informasi yang aku dapat mengenai aktifitas Loji dimasa lalu serta pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat local.  

Warung Nasi Uwet Pak Zarkasih,
dengan menu khas Pekalongan Nasi Begono
Aku sempatkan mampir dulu ke sebuah warung makan, namanya warung Nasi Uwet Haji Zarkasih, dengan menu khas Pekalongan, Nasi Begono. Sayur yang terbuat dari tewel atau nangka muda yang diiris kecil kecil, seperti gudeg Jogja, tetapi teksturnya lebih nampak, tidak lembut atau cenderung hancur seperti gudeg, dan berkuah. Ditambah potongan daging yang juga direbus bareng sayurnya dan dituangkan ke sepiring nasi. Rasanya, mantab, nikmat, dagingnya juga empuk.

Makam Habib Ahmad Bin Abdullah Bin Tholib Al-Atos

Makam Mbah Fakih
Selepas sarapan nasi begono, aku melanjutkan bersilaturrahim ke Makam Habib Ahmad bin Abdullah Bin Tholib al-Atos. Wafat th 1927, tokoh yang disebut wali ini, semasa hidupnya  sangat dihormati dan disegani, baik oleh kalangan umat muslim sendiri maupun umat lain. Konon kisahnya dulu para perempuan tidak berani melewati rumahnya tanpa berkerudung, termasuk wanita cina dan belanda. Barangkali ini menunjukkan betapa islaminya kota ini dulu.  Kini makam Habib banyak dikunjungi jamaah dalam rangka silaturrahim atau ziarah, termasuk ketika aku tiba disini, beberapa bus besar parkir membawa rombongan peziarah dari berbagai kota. Didekat makam Habib Ahmad, masih didalam satu komplek pekuburan, terdapat pula makam Kyai Fakih, yang juga banyak diziarahi, beliau dikenang sebagai ahli fikih dijamannya.  Disini juga terdapat makam leluhur Habib Luthfi, Habib Luthfi sendiri hingga kini masih terus berdakwah, beliau salah satu Habib yang mashur ditanah jawa.

Masjid Raudhah
Aku juga mengunjungi Masjid Raudhah, Masjid yang selalu ramai pada saat haul Habib Ahmad, Masjid tempat dulu Habib Ahmad berdakwah, menebarkan ahlak yang baik, dan menjalankan amar makruf nahi munkar.

Masjid Sapuro


Bedug Masjid Sapuro
Selanjutnya aku mengunjungi Masjid Sapuro, konon inilah Masjid tertua di Pekalongan, aku menyempatkan sholat dhuhur disini. Masjid yang terletak di desa Sapuro ini masih terawat baik, sayang tempatnya yang persis ditengah-tengah perkampungan dan berimpitan dengan rumah penduduk, menyebabkan agak sulit mengambil foto.

Kemudian aku berkeliling kota untuk melihat Masjid Agung Pekalongan, dan beberapa bangunan tua peninggalan belanda, antara lain bekas gedung residence belanda, rumah residence, serta stasiun Pekalongan yang bentuknya belum banyak berubah. Ada juga penjara jaman belanda, yang dibangun tahun 1913, hingga kini masih berfungsi sebagai Lapas.

Stasiun Pekalongan
Stasiun Pekalongan
Lapas Klas 2A, Pekalongan
bekas penjara jaman belanda
Dari perjalanan yang singkat itu, dapatlah kiranya disimpulkan bahwa strategy Belanda berhasil, dan nuansa islaminya masyarakat pekalongan masih dapat aku rasakan ketika berinteraksi dengan mereka.

Lanjut ke : Pekalongan, Loji, dan Nelayan (Part 2)

Pekalongan, Loji, dan Nelayan (Part 2)



Pelabuhan Ikan Pekalongan, adalah tempat terakhir yang aku kunjungi, konon ini adalah pelabuhan ikan terbesar di Jawa, disini juga ada TPI, Tempat Pelelangan Ikan. Terletak di pantai Slamaran. Lelang ikan berlangsung terbuka, dan tertib. Pelabuhan dan TPI Pekalongan ini sangat bersih dan rapi, jika dibanding dengan kebanyakan pelabuhan ikan yang terkesan kotor, kumuh, dan bau.

Pagi, di pantai Slamaran, Pekalongan
Terdapat satu gedung tua berarsitektur belanda yang masih terawat rapih dan bersih, serta masih digunakan untuk kantor. Sangat klasik dan indah.

Pelabuhan Ikan Pekalongan yg bersih
Menyaksikan sendiri proses sejak ikan diturunkan dari kapal yang baru bersandar, kemudian dibawa kedalam TPI untuk siap dilelang, ditata sedemikian rupa sehingga tersusun rapi per jenis ikan dan ukuran, dimana masing masing sudah dimasukkan kedalam kantong plastic, sehingga ikan tetap bersih dan hygien. Adalah suatu pengalaman tersendiri, sungguh luar biasa. Konon pelabuhan disini memang memiliki reputasi mentereng. Adalah pelabuhan ikan terbesar sekaligus terbersih di Jawa.

Kapal Nelayan, bersandar di Pelabuhan Ikan Pekalongan
Bertolak belakang dengan reputasi tersebut, para nelayan yang sempet aku temui, bercerita bahwa kondisi dunia perikanan Indonesia sesungguhnya memprihatinkan. Setidaknya apa yang mereka saksikan dan  alami cukup menjadi gambaran untuk mewakili kondisi yang utuh. Aku mendengarkan, sesekali menanggapi dan berkomentar serta berusaha menghibur agar mereka tetap sabar.

Dituturkan, dulu tahun 90-an rata-rata 500 sampai 700 kapal yang bersandar untuk bongkar muat, kini hanya tinggal antara 150 sampai 200 kapal saja. Dulu lelang berlangsung dari pagi buta sampai sore hari, kini rata rata dimulai jam setengah delapan, belum tengah hari sudah habis terjual.

Tanpa ditanya apa sebabnya, mereka dengan lancar menjelaskan penyebabnya. Ini bukan karena daya beli masyarakat menurun. Tapi karena fishing groundnya sudah habis. Apa itu fishing ground Pak ?, tanyaku. Ya lokasi penangkapan ikan, ada 2 tempat yang umum didatangi oleh nelayan Pekalongan, juga nelayan daerah lain, yaitu Masalembo, dan Natuna. Kenapa bisa habis ? karena over fishing, tambahnya. Segitu banyakkah kapal kapal kita sampai ikannya habis di tangkap ?, tidak…

Kapal asing justru yang banyak, kalau malam, dilokasi penangkapan suasananya kayak pasar malam, kerlap kerlip lampu kapal dimana-mana, kebanyakan mereka illegal, curi ikan di Indonesia, untuk amannya mereka ganti bendera merah putih ditengah laut. Mereka pakai jaring pukat, sehingga ikan ikan kecil pun ikut tertangkap, dan terumbu karang rusak karenanya. Sehingga ya bisa dibayangkan, lama-lama ikannya habis. Karena yang kecil gak sempet tumbuh jadi besar  untuk suatu hari nanti ditangkap.  Ditambah lagi tempet berkembang biaknya, yaitu terumbu karangnya juga rusak.

Sementara kami yang asli nelayan local dilarang pakai jaring pukat.

Apakah tidak dilaporkan kondisi ini Pak, tanyaku.
Sudah Mas, jawabnya
Terus gimana hasilnya ?
Ya, begitulah…. 

Jawaban penuh makna. Aku tidak melanjutkan Tanya jawab ini. aku coba menghibur dan memberi harapan. Bukankah mentri Susi sekarang ini serius sekali melawan illegal fishing, banyak kapal ditenggelamkan, seperti yang kita lihat di TV ?. ya… betul, semoga itu bukan pencritaan, sahutnya. Kenapa begitu Pak ? tanyaku spontan. Masak sebulan Cuma satu yang ditenggelamkan ?, di laut sono ratusan Pak yang nyolong….

Sabar Pak… pelan-pelan, setidaknya sudah dimulai oleh Mentri Susi, semoga kesananya akan semakin banyak lagi kapal-kapal asing yang mencuri ikan di laut kita, ditangkapi oleh Angkatan Laut kita, dan langsung ditenggelamkan, supaya ada efek jera. Ikan kita melimpah dan habitatnya tidak rusak. Nelayan kita kembali melaut dan mendapat hasil yang melimpah. Tempat pelelangan ikan disini kembali ramai dari subuh sampai maghrib.

Aamiin… 

Gedung bekas peninggalan Belanda yang masih terawat
Muara Sungai Slamaran, pintu masuk menuju Pelabuhan Ikan Pekalongan